Muslimat NWDI merupakan badan otonom resmi yang menghimpun dan mengoordinasikan gerakan kaum perempuan, khususnya para ibu, tokoh wanita, dan srikandi jemaah di bawah naungan ormas induk NWDI. Organisasi ini memiliki akar sejarah yang sangat kuat dan tidak dapat dipisahkan dari nama sebelumnya, Muslimat NW.
Jauh sebelum organisasi Muslimat terbentuk secara formal, sang pendiri, TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, telah meletakkan pondasi emansipasi wanita yang sangat progresif di Pulau Lombok.
Beliau mendirikan Madrasah NBDI (Nahdlatul Banat Diniyah Islamiyah) khusus untuk kaum perempuan. Langkah ini merupakan sebuah revolusi kebudayaan pada masanya, memberikan hak pendidikan formal yang setara bagi kaum perempuan Sasak agar terbebas dari buta huruf dan keterbelakangan.
Kaum srikandi dan lulusan dari Madrasah NBDI inilah yang kelak menjadi modal dasar utama (human resource) pembentukan sayap organisasi wanita di lingkungan Nahdlatul Wathan.
Ketika ormas induk Nahdlatul Wathan (NW) resmi didirikan, struktur banom mulai dibentuk secara bertahap untuk membagi kluster syiar dan dakwah.
Sayap gerakan wanita kemudian dilembagakan dengan nama Muslimat Nahdlatul Wathan (Muslimat NW). Muslimat NW bergerak masif di akar rumput melalui majelis taklim, pembinaan kesejahteraan keluarga, pendidikan anak usia dini, sosial, serta menggerakkan tradisi keagamaan perempuan seperti pembacaan Hizib NW khusus jemaah ibu-ibu.
Sejarah mencatat putri kandung pendiri, Ummuna Al-Mujahidah Hj. Sitti Raihanun Zainuddin AM, memegang peranan krusial sebagai tokoh yang pertama kali menerima SK dan memimpin pembentukan Pengurus Wilayah Muslimat NW Provinsi NTB secara resmi pada masanya, serta mengonsolidasikan ranting gerakan ke pelosok desa.
Mengikuti maklumat historis tertib hukum pembentukan ormas induk Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI), banom wanita ini secara resmi bertransformasi menggunakan nama Muslimat NWDI.
Pendidikan perempuan sejak 1943 menjadi pondasi penting perjalanan gerakan.
Majelis taklim, guru perempuan, keluarga, sosial, dan tradisi keagamaan menjadi ruang pengabdian.
Perubahan nama menjadi Muslimat NWDI mengikuti transformasi organisasi induk menjadi NWDI.
Saat ini, Pimpinan Pusat (Pimpus) Muslimat NWDI dipimpin secara nasional oleh Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah, M.Pd. (yang juga merupakan mantan Wakil Gubernur NTB).
Beliau merupakan srikandi utama NWDI, cucu kandung dari pahlawan nasional sang pendiri (Almaghfurlah Maulana Syeikh), serta tokoh perempuan nasional yang pernah menjabat sebagai Wakil Gubernur NTB (2018–2023).
Di bawah kepemimpinan Umi Rohmi, Muslimat NWDI tampil dengan wajah yang sangat modern, progresif, berpendidikan tinggi, namun tetap membumi dan kental dengan kultur religius kesantrian.
Aktivitas Muslimat NWDI berfokus pada pengabdian riil di masyarakat melalui empat pilar gerakan.
Menjadi pengelola dan pembina utama ribuan Majelis Taklim khusus ibu-ibu di berbagai daerah. Rutin mengadakan pengajian akbar bulanan serta menyebarkan paham Ahlussunnah wal Jama'ah yang berhaluan moderat (Washatiyyah). Membina ketahanan moral santriwati di jaringan sekolah dan madrasah NWDI.
Kader aktif berkolaborasi dengan pemerintah melalui Posyandu Keluarga, menurunkan angka stunting (tengkes), serta mengawal kesehatan ibu dan anak. Bakti sosial juga dilakukan melalui donor darah, pembagian sembako, dan santunan anak yatim.
Membangun soliditas pergerakan srikandi lewat safari kunjungan pengurus pusat ke pengurus daerah di berbagai pulau, dari poros Lombok hingga Pulau Sumbawa. Menjadi tiang utama pendukung pergerakan ormas induk dalam menyuarakan hak-hak sipil perempuan dan perlindungan anak.
Aktivitas yang tidak pernah ditinggalkan adalah pembacaan Hizib Nahdlatul Wathan secara berjamaah di kalangan ibu-ibu. Ritual ini menjadi perekat emosional dan spiritual yang membuat gerakan srikandi ini sangat militan.
Muslimat NWDI beroperasi menggunakan rantai komando vertikal yang terstruktur, dengan akar langsung pada mubalighah, guru-guru madrasah perempuan, dan ketua-ketua Majelis Taklim perempuan di perkampungan.
Aktif berkolaborasi dalam isu-isu kesehatan keluarga bawah, seperti penurunan angka stunting dan penguatan Posyandu Keluarga.
Terus membina jaringan guru-guru perempuan, majelis taklim, dan pengelolaan asrama santriwati.
Memperkuat soliditas srikandi jemaah di berbagai pulau, Lombok, Sumbawa, hingga luar daerah, untuk menyebarkan Islam moderat (Washatiyah) lewat dakwah kultural kaum ibu.
Secara rutin menggelar aksi donor darah, pembagian sembako, dan santunan anak yatim, terutama menjelang perayaan besar seperti HULTAH (Hari Ulang Tahun) madrasah induk.
Aktivitas yang tidak pernah ditinggalkan adalah pembacaan Hizib Nahdlatul Wathan secara berjamaah di kalangan ibu-ibu. Tradisi ini menjadi perekat emosional dan spiritual dalam perjalanan gerakan srikandi Muslimat NWDI.
Hubungannya sangat runtut: Madrasah NBDI (1943) mencetak kader perempuannya, dilembagakan melalui nama Muslimat NW selama puluhan tahun, dan kini bersistem secara modern pasca-2021 dengan nama Muslimat NWDI di bawah kepemimpinan Umi Rohmi Djalilah.