1937 — Madrasah NWDI
Berdirinya Madrasah NWDI menjadi salah satu akar penting berkembangnya jaringan pendidikan yang kemudian menyebar ke berbagai pelosok desa.
Persatuan Guru NWDI (PG NWDI), wadah resmi yang menghimpun, membina, dan mengoordinasikan tenaga pendidik, ustadz, ustadzah, dan guru yang mengabdi di jaringan madrasah, sekolah, dan pondok pesantren NWDI.
Sejarah PG NWDI berakar dari Persatuan Guru NW (PGNW), tumbuh bersama berkembangnya jaringan pendidikan yang dibangun oleh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid.
Perjalanan PG NWDI tidak dapat dipisahkan dari ruh utama pendirian ormas induk. Pertumbuhan madrasah melahirkan kebutuhan terhadap wadah profesi yang mampu menyatukan visi, mutu, dan perjuangan para pendidik.
Berdirinya Madrasah NWDI menjadi salah satu akar penting berkembangnya jaringan pendidikan yang kemudian menyebar ke berbagai pelosok desa.
Perkembangan pendidikan berlanjut dengan berdirinya Madrasah NBDI. Jaringan madrasah kemudian tumbuh secara luas dan membutuhkan tenaga pendidik yang semakin terorganisasi.
Ketika ormas induk Nahdlatul Wathan resmi didirikan, ribuan guru madrasah membutuhkan wadah perjuangan profesi untuk menyatukan visi kurikulum, metodologi pengajaran Islam, dan perlindungan profesi pendidik santri.
Dari kebutuhan administrasi dan perjuangan tersebut terbentuk Persatuan Guru NW (PGNW), yang selama puluhan tahun menjadi wadah strategis para guru dalam jaringan pendidikan NW.
PGNW tidak sekadar menghimpun profesi. Ia membawa tanggung jawab pendidikan, kaderisasi, kurikulum ke-NW-an, dan standardisasi pengajaran.
Membina generasi muda dan santri agar menjadi kader NW yang militan, siap pakai di mana saja, serta melek terhadap kebutuhan zaman.
Menjaga dan mengajarkan muatan lokal keorganisasian, sejarah perjuangan Maulana Syeikh, serta pembacaan Hizib Nahdlatul Wathan di sekolah-sekolah.
Menyelaraskan mutu kompetensi mengajar antara guru di pusat, Pancor, dengan guru-guru madrasah cabang di pelosok pulau terpencil.
Sejarah mencatat babak baru penegasan legalitas hukum organisasi pada 23 Maret 2021. Ketika ormas induk menegaskan eksistensi dan legalitasnya menjadi Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI) di bawah kepemimpinan TGB Dr. KH. Muhammad Zainul Majdi, M.A., banom profesi guru menyesuaikan nama menjadi Persatuan Guru NWDI (PG NWDI).
Pergantian nama mengikuti dinamika hukum, tetapi tidak memutus warisan. PG NWDI tetap membawa sejarah, semangat khidmah, dan cita-cita pendidikan yang diletakkan Almaghfurlah Maulana Syeikh sejak puluhan tahun silam.
Sebelum kepemimpinan nasional modern, Persatuan Guru berada di bawah kepemimpinan Drs. H. Saipun Nasri, M.Pd., tokoh pendidikan dan birokrat senior.
Beliau membawa warna kepemimpinan yang matang dalam tata kelola kelembagaan pendidikan. Jaringan madrasah dan pondok pesantren dipandang sebagai satu kesatuan ekosistem besar yang harus maju bersama, baik dari mutu pengajaran maupun ketahanan ekonominya.
Sebagai alumni senior Muallimin NWDI Pancor pada era pertengahan 1985–1990, beliau memahami khittah, ruh kurikulum, dan metode pengajaran yang diwariskan Maulana Syeikh. Salah satu warisan pentingnya adalah kemampuan menyelaraskan tradisi kitab kuning dan Hizib dengan tuntutan administrasi kedinasan guru modern.
Ketua Umum PG NWDI
Pimpinan Pusat Persatuan Guru NWDI saat ini dipimpin oleh H. Lalu Muhammad Hidir, M.Pd. sebagai Ketua Umum. Di bawah kepemimpinannya, organisasi profesi guru diarahkan untuk meningkatkan mutu dan profesionalisme pendidik sambil mempertahankan jatidiri kesantrian.
PG NWDI bergerak mengikuti perkembangan teknologi pendidikan nasional tanpa kehilangan akar pengajaran dan nilai kesantrian.
Peningkatan kualitas guru, profesionalisme, Kurikulum Merdeka, teknologi pembelajaran digital, dan metode mengajar yang ramah anak.
Menjaga pengajaran kitab kuning, sejarah perjuangan Almaghfurlah Maulana Syeikh, serta pembacaan Hizib agar tetap konsisten di jaringan madrasah.
Guru, madrasah, sekolah, dan pondok pesantren dipandang sebagai satu ekosistem pendidikan yang saling menguatkan.
Penguatan organisasi dari Lombok dan wilayah sekitarnya menuju jaringan nasional, termasuk pengembangan struktur di berbagai daerah seperti Pulau Sumbawa.
Dari rahim pendidikan NW sejak 1937 dan 1943, tumbuh kebutuhan terhadap perjuangan profesi guru. Dari PGNW hingga PG NWDI, warisan itu terus bergerak: meningkatkan mutu, menguatkan jaringan, menjaga tradisi, dan beradaptasi dengan zaman tanpa kehilangan jati diri kesantrian.