Pengamanan & Pengawalan
Menjaga marwah, kehormatan, dan keamanan pimpinan serta kelancaran berbagai acara besar organisasi NWDI seperti Hultah.
Sejarah dan perkembangan satuan pengamanan dan pengabdian di bawah naungan Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI), dari fase pembentukan hingga transformasi pengabdian pada zaman baru.
Satgas Hamzanwadi Pancor adalah satuan tugas pengamanan dan pengabdian di bawah naungan NWDI yang berbasis di Pancor, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Kehadirannya menjadi bagian penting dalam perjalanan organisasi, khususnya dalam menjaga keamanan, ketertiban, marwah, dan kehormatan pimpinan serta mendukung berbagai kegiatan keagamaan, kebangsaan, dan kemasyarakatan.
Menjaga marwah, kehormatan, dan keamanan pimpinan serta kelancaran berbagai acara besar organisasi NWDI seperti Hultah.
Melatih kedisiplinan mental dan fisik anggota agar senantiasa siap siaga mengawal kegiatan keagamaan dan kebangsaan dengan prinsip Sami’na wa Atho’na.
Berpartisipasi menjaga stabilitas sosial, menangkal radikalisme, serta membantu menyukseskan agenda kemasyarakatan di lingkungan yayasan dan daerah sekitar.
Satgas Hamzanwadi Pancor secara resmi didirikan pada 8 April 2000, bertepatan dengan 4 Muharram 1421 H. Kehadirannya tidak dapat dilepaskan dari dinamika Nahdlatul Wathan setelah wafatnya pendiri Nahdlatul Wathan, TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, pada 1997, serta situasi sosial-politik Lombok pada masa awal Reformasi.
Wafatnya pendiri Nahdlatul Wathan, TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, menjadi salah satu konteks penting perubahan dinamika organisasi.
Pasca Muktamar X tahun 1998 di Praya, terjadi dualisme kepemimpinan antara kubu Pancor yang didukung Ummi Hj. Sitti Rauhun dan kubu Anjani yang didukung Ummi Hj. Sitti Raihanun.
Dalam suasana ketidakstabilan keamanan nasional dan munculnya berbagai gesekan di akar rumput, kebutuhan menjaga madrasah, pesantren, pimpinan, keluarga zuriat, serta aset penting organisasi semakin kuat.
Satgas Hamzanwadi dibentuk sebagai kekuatan sipil yang pada masa awal memiliki fungsi defensif: membentengi aset vital, lembaga pendidikan, serta menjaga keselamatan fisik keluarga zuriat pendiri di kompleks Pancor. Nama Hamzanwadi merupakan akronim yang merujuk pada Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid.
Sejak awal, organisasi ini berasaskan Pancasila dan menyatakan kesetiaan kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Tujuan utamanya adalah mengamankan kegiatan keagamaan, menjaga marwah serta kehormatan pimpinan organisasi, dan menangkal radikalisme.
Satgas Hamzanwadi berpegang teguh pada aqidah Islam Ahlussunnah Waljama’ah dengan merujuk pada Mazhab Imam Syafi’i.
Anggota bergerak dalam bingkai ukhuwah Islamiyah dan memegang prinsip Nahdlatul Wathan Fil Khair dan Nahdlatul Wathan Fastabiqul Khairat: dalam kebaikan dan berlomba-lomba dalam kebaikan.
Dalam perkembangannya, Satgas menegaskan visi kebangsaan menuju Islam Wasathiyah, menjaga persaudaraan antarumat beragama, mempertahankan kedaulatan NKRI, serta menempatkan pengabdian dalam semangat moderasi, persatuan, dan kemaslahatan.
Asas Pancasila dan komitmen terhadap NKRI menjadi bagian dari identitas organisasi dan orientasi pengabdian personel.
Sejak berdiri, Satgas Hamzanwadi berkembang menjadi salah satu kekuatan pengamanan dan pengabdian yang memiliki basis massa kuat. Berdasarkan catatan sejarah dan riset dalam bahan sumber, jumlah anggota dan simpatisannya pernah disebut mencapai sekitar 30.000 personel di seluruh jaringan wilayah.
Kekuatan Satgas tidak hanya bertumpu pada kaum laki-laki. Dalam ingatan sejarah lokal, terdapat partisipasi aktif kaum perempuan atau laskar perempuan. Perempuan Sasak di bawah naungan NWDI disebut memiliki peran spiritual dan moral dalam memperkokoh barisan, membangkitkan semangat perjuangan, serta memberikan dukungan doa dan logistik bagi anggota di lapangan.
Dalam agenda besar seperti Hultah NWDI, ribuan personel dapat bergerak dengan sistem swadaya. Anggota dari berbagai daerah sering membawa bekal logistik sendiri untuk menjalankan tugas pengamanan pimpinan dan organisasi. Semangat ini tumbuh dari keyakinan bahwa pengabdian keagamaan memiliki nilai keberkahan.
Satgas tidak hanya mencetak personel yang kuat secara fisik, tetapi juga membangun mental, spiritualitas, kedisiplinan, dan kemampuan membaca situasi. Personel dibekali latihan berkesinambungan agar menjadi tenaga khusus yang militan, kreatif, konsekuen, dan tetap humanis.
Memperkuat akhlak, mental spiritual, dan kemampuan berinteraksi secara humanis dengan jamaah dan masyarakat.
Pembinaan fisik, baris-berbaris, ketahanan mental, kedisiplinan, dan strategi pengamanan lapangan.
Membangun kepekaan dan kemampuan deteksi dini terhadap provokasi, radikalisme, hoaks, dan potensi konflik horizontal.
Membekali anggota dengan kemampuan perlindungan terhadap aset vital, mulai dari kompleks pendidikan, masjid, hingga lembaga keuangan milik organisasi.
Pembinaan menjadikan Satgas bukan sekadar petugas pengamanan jangka pendek, tetapi juga wadah kaderisasi. Disiplin dan bekal ilmu umum diharapkan membentuk kader yang siap mengambil peran strategis dalam kepemimpinan tingkat yayasan, daerah, maupun nasional.
Kekuatan personel dipadukan dengan kemampuan membaca keadaan dan melayani jamaah serta masyarakat secara bermartabat.
Setiap anggota Satgas Hamzanwadi yang resmi dikukuhkan disebut melewati proses pembaiatan spiritual. Prinsip Sami’na wa Atho’na menjadi salah satu dasar loyalitas dan kedisiplinan anggota dalam menjalankan garis instruksi kepemimpinan para Tuan Guru serta zuriat pendiri organisasi.
Prinsip tersebut menjadi bagian penting dari karakter Satgas. Ketaatan tidak hanya dipahami sebagai kepatuhan organisatoris, tetapi juga sebagai bentuk pengabdian kepada perjuangan, guru, organisasi, dan umat.
Markas komando utama Satgas Hamzanwadi berada di kompleks pendidikan Pancor, Lombok Timur.
Meskipun berpusat di Pancor, Satgas memiliki jaringan komando di sejumlah wilayah, salah satunya Komando Satgas Hamzanwadi Daerah Lombok Tengah. Ketika agenda besar seperti Hultah berlangsung di Pancor, komando daerah dapat merapat dan bersatu memperkuat pengamanan.
Pengurus pusat Satgas disebut dipilih secara berkala melalui forum pengambilan keputusan tertinggi organisasi, yaitu Musyawarah Besar (Mubes). Berdasarkan keputusan forum tersebut, keberadaan Satgas bersifat permanen atau untuk jangka waktu yang tidak ditentukan.
Satgas dapat mengerahkan ratusan hingga ribuan personel untuk Hultah, mengatur arus lalu lintas, mengawal jamaah, menata pergerakan massa, dan memastikan kegiatan aman dan tertib. Selain itu siaga pada Salat Idul Fitri, Idul Adha, Maulid Nabi, serta pawai alegoris di sekitar Lombok Timur.
Pengamanan juga mencakup pengawalan pimpinan dan tokoh organisasi, termasuk zuriat pendiri seperti TGB Dr. Muhammad Zainul Majdi dalam agenda safari dakwah. Secara geografis, Satgas menjalankan fungsi pengamanan perjalanan jamaah dari berbagai kabupaten menuju pusat pergerakan di Pancor. Dalam istilah yang berkembang di kalangan jamaah, rute tersebut dikenal sebagai “jalur sutra” dakwah. Koordinasi antarsatgas daerah membantu memastikan perjalanan jamaah berlangsung lancar serta terhindar dari hambatan fisik maupun provokasi.
Berdasarkan arahan Dewan Tanfiziyyah dalam forum organisasi, Satgas tidak harus menunggu proses birokrasi tertulis apabila menyangkut pengamanan marwah dan kehormatan pimpinan organisasi. Ketika terdapat indikasi gangguan, anggota dapat langsung bersiap di garda terdepan sesuai tanggung jawab pengamanan.
Kewenangan kesiapsiagaan berjalan bersama tuntutan disiplin dan tanggung jawab. Anggota tetap diarahkan mengutamakan ketertiban, keselamatan jamaah, komunikasi, dan pendekatan humanis.
OPSUS merupakan sub-unit fungsional yang diisi personel pilihan dengan kualifikasi fisik dan mental lebih tinggi. Tugasnya menjadi bagian terdepan dalam pengawalan ketat zuriat, termasuk TGB Dr. M. Zainul Majdi, serta menangani titik-titik krusial dengan risiko keamanan lebih tinggi selama perhelatan besar keagamaan.
Anggota dilarang bersikap arogan.
Diwajibkan menjalin silaturahmi dengan organisasi massa dan lembaga pengamanan lain.
Pelayanan kepada masyarakat tidak boleh membeda-bedakan latar belakang kelompok.
Personel tidak diperkenankan menginisiasi kontak fisik atau konfrontasi.
Penggunaan kekuatan fisik ditempatkan sebagai langkah terakhir untuk membela diri atau melindungi jamaah dari bahaya nyata.
Di luar kegiatan internal, anggota diarahkan membantu aparat kepolisian dan TNI dalam menjaga kelancaran fasilitas publik, penanggulangan bencana, dan kegiatan sosial kemasyarakatan.
Setelah berpuluh tahun berada dalam atmosfer dualisme, dinamika Satgas mengalami perubahan besar pasca-islah atau mediasi resmi di Mataram. Dalam bahan sumber, momentum ini dikaitkan dengan penggunaan nama Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI) oleh kubu Pancor yang dipimpin TGB Dr. Muhammad Zainul Majdi.
Satgas Hamzanwadi Pancor semakin memantapkan diri sebagai badan otonom pengamanan utama di bawah payung PB NWDI.
Fungsi yang sebelumnya sangat dipengaruhi situasi defensif dan konflik berkembang menjadi pengamanan kegiatan, penjaga perdamaian, pengabdian kepada masyarakat, serta bagian dari upaya menangkal paham radikal.
Transformasi memperlihatkan kemampuan Satgas beradaptasi: dari kekuatan defensif pada masa penuh ketegangan menjadi organisasi pengamanan yang lebih modern, humanis, inklusif, dan berwawasan kebangsaan.
Di lingkungan pendidikan terdapat Satgas PPKPT Universitas Hamzanwadi yang menyelenggarakan pelatihan eksternal seperti pelatihan paralegal bagi guru dan kepala sekolah untuk mendukung lingkungan pesantren yang ramah anak, aman, dan bebas dari perundungan.
Satgas PPKS (Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual) di lingkungan kampus bertugas memberikan edukasi dan layanan pengaduan bagi civitas akademika.
Pelatihan bagi kepala sekolah, wakil kepala sekolah, dan guru Bimbingan Konseling diarahkan memberikan pemahaman dasar hukum tentang perlindungan anak serta penanganan persoalan kekerasan digital, perundungan, dan kekerasan berbasis gender di lingkungan madrasah dan pesantren.
Perjalanan Satgas Hamzanwadi Pancor tidak dapat dipisahkan dari para tokoh yang memimpin dan membentuk karakter organisasinya. Estafet kepemimpinan menunjukkan kesinambungan antara semangat perjuangan awal, penguatan tata kelola, hingga transformasi menuju pengabdian yang lebih luas.
Pendiri & Komandan Pertama
Meletakkan fondasi perjuangan, kedisiplinan, kekuatan fisik-spiritual, dan loyalitas organisasi.
Komandan Penerus
Membawa corak birokrasi, akademis, tata kelola, dan hubungan kelembagaan.
Komandan Pusat Saat Ini menurut bahan sumber
Melanjutkan transformasi pengamanan, pengabdian sosial, pendidikan, dan perlindungan hukum.
H. M. Syamsul Luthfi merupakan tokoh kunci yang menginisiasi pembentukan Satgas Hamzanwadi pada 8 April 2000 guna membentengi marwah organisasi dan keluarga pimpinan Pancor di masa-masa awal Reformasi.
Ia lahir di Pancor, Lombok Timur, pada 30 Januari 1971. Ia merupakan putra kedua dari pasangan H. Djalaluddin (alm.) dan Ummi Hj. Sitti Rauhun Zainuddin Abdul Madjid, serta kakak kandung TGB. Dr. KH. Muhammad Zainul Majdi. Sebagai bagian dari zuriat pendiri Nahdlatul Wathan, posisinya memiliki arti penting dalam perjalanan organisasi.
Sebagai pendiri dan Ketua Umum pertama, ia meletakkan fondasi militeristik, kedisiplinan tingkat tinggi, serta menanamkan doktrin loyalitas Sami’na wa Atho’na kepada seluruh anggota Satgas Hamzanwadi di tingkat akar rumput.
H. M. Syamsul Luthfi memiliki perjalanan pengabdian yang luas. Ia pernah menjabat sebagai Ketua DPRD Lombok Timur pada 2004–2008, kemudian Wakil Bupati Lombok Timur periode 2008–2013, serta Anggota DPR-RI dari Fraksi Partai NasDem selama dua periode, 2014–2018 dan 2019–2024, dari daerah pemilihan NTB II.
Selama berada di Senayan, ia mengawal berbagai aspirasi masyarakat Pulau Lombok melalui Komisi X yang membidangi pendidikan, olahraga, dan pariwisata. Pengalaman di pemerintahan dan legislatif memperlihatkan bahwa kepemimpinannya tidak hanya tumbuh dari lingkungan organisasi, tetapi juga dari pengalaman panjang dalam pelayanan publik.
Di luar politik dan organisasi, H. M. Syamsul Luthfi dikenal memiliki perhatian besar terhadap olahraga, khususnya sepak bola. Ia pernah menjabat Ketua PSSI Cabang Lombok Timur pada 2007–2013 dan Ketua PSSI Provinsi NTB pada 2009–2012. Ia juga tercatat sebagai salah satu inisiator Kelompok 76, sebuah koalisi pemilik suara yang bergerak dalam dinamika pergantian kepemimpinan PSSI nasional.
Dalam bidang kepemudaan, ia pernah menjadi Ketua PP Himmah Nahdlatul Wathan pada 1994, jauh sebelum berdirinya Satgas Hamzanwadi. Kiprah tersebut menunjukkan luasnya pengalaman pengorganisasian dan kepemimpinan yang telah ia bangun sejak masa muda.
Pengaruhnya di akar rumput tidak hanya terbatas pada jemaah NWDI. Ia merangkul sektor strategis masyarakat NTB lainnya dengan menjabat sebagai Ketua HKTI (Himpunan Kerukunan Tani Indonesia) NTB pada tahun 2009 untuk mengonsolidasikan hak-hak petani lokal.
Nama besar H. M. Syamsul Luthfi sebagai cucu kandung pahlawan nasional TGKH. M. Zainuddin Abdul Madjid juga menjadikannya figur yang diperhitungkan dalam dinamika demokrasi Lombok Timur. Bahan sumber menggambarkan perpaduan ketegasan seorang komandan Satgas, keluwesan birokrat, dan keberanian tokoh pergerakan olahraga sebagai karakter yang membuatnya dihormati secara kultural.
Salah satu kontribusi yang disebut menonjol adalah upayanya menyelesaikan persoalan listrik KLP Aikmel. Pada 2013, ketika menjabat Wakil Bupati, ia disebut berhasil mengarsiteki pengalihan 7.759 pelanggan KLP menjadi pelanggan resmi PLN sehingga masyarakat memperoleh pasokan listrik yang lebih stabil.
Ia juga disebut menjadi penggerak pemekaran desa di Lombok Timur. Dengan bertambahnya jumlah desa, peluang peningkatan Dana Desa dari pemerintah pusat ikut terbuka dan diharapkan mempercepat pembangunan jalan, jembatan, dan fasilitas umum.
Di bidang sosial, ia disebut aktif mendorong program makan dan minum gratis bagi anak-anak yatim piatu melalui LKSA serta membina umat melalui jaringan yayasan dan penguatan ekonomi produktif berbasis syariah di lingkungan pondok pesantren.
Selama sepuluh tahun di DPR-RI, perhatian terhadap pendidikan juga menjadi bagian penting dari pengabdiannya. Ia mengawal program seperti Beasiswa Program Indonesia Pintar (PIP), bantuan sarana dan prasarana sekolah, serta sosialisasi Empat Pilar dan moderasi beragama kepada pemuda dan santri.
Ia rutin turun ke akar rumput guna mengadakan seminar kebangsaan, menanamkan pemahaman Pancasila dan moderasi beragama (Islam Wasathiyah) kepada para pemuda dan santri.
Setelah menyelesaikan masa baktinya sebagai Anggota DPR-RI pada 2014–2024, H. M. Syamsul Luthfi kembali memfokuskan perhatian pada tanah kelahirannya, Kabupaten Lombok Timur. Ia maju dalam kontestasi Pilbup Lombok Timur bersama H. Abdul Wahid melalui Paket Luthfi-Wahid.
Visi yang diusung menekankan pembenahan pendidikan, peningkatan akses layanan kesehatan, serta pengurangan ketimpangan sosial-ekonomi masyarakat pedesaan. Salah satu gagasan yang disebut menonjol adalah program “Satu Miliar Satu Desa”, berupa gagasan suntikan dana langsung sebesar Rp1 miliar per desa untuk mengoptimalkan potensi lokal dan meningkatkan Pendapatan Asli Desa (PADes).
Dalam menghadapi dinamika politik, ia juga menekankan kepada tim dan relawan agar mengedepankan kampanye yang santun, merangkul semua kelompok, menjaga persatuan organisasi, dan tidak membalas fitnah dengan cara-cara negatif. Sikap tersebut selaras dengan watak humanis yang juga menjadi bagian dari nilai Satgas Hamzanwadi.
Setelah era kepemimpinan pendiri H. M. Syamsul Luthfi, SE., M.Si., tongkat estafet komando Satgas Hamzanwadi sempat berada di tangan Dr. H. Mashun, M.AP., M.Pd. Kehadirannya membawa corak kepemimpinan yang kuat dengan pengalaman birokrasi, kedisiplinan publik, dan dunia akademis.
Dr. H. Mashun dikenal sebagai birokrat dan akademisi senior di Lombok Timur. Bahan sumber mencatat bahwa ia pernah mengemban amanah sebagai Kepala Cabang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lombok Timur.
Selain di pemerintahan, Dr. H. Mashun juga aktif sebagai Dosen Tetap di Universitas Hamzanwadi Pancor, mengajar pada rumpun Pendidikan Bahasa Indonesia serta Manajemen Pendidikan.
Pada masa transisi pasca-kepemimpinan awal, Dr. H. Mashun berperan penting dalam merapikan administrasi keorganisasian Satgas Hamzanwadi. Dengan latar belakangnya sebagai Doktor di bidang Manajemen Pemerintahan/Administrasi Publik (M.AP.), ia membantu menyelaraskan pergerakan Satgas agar lebih sinergis dengan regulasi kedinasan, kepolisian, dan tata pamong pemerintahan daerah di Nusa Tenggara Barat.
Estafet kepemimpinan Dr. H. Mashun menunjukkan bahwa perjalanan Satgas tidak berhenti pada tokoh pendiri. Tongkat komando terus bergerak menuju fase berikutnya dengan penekanan berbeda: dari fondasi dan kedisiplinan awal menuju penguatan tata kelola dan kemitraan kelembagaan.
Tongkat komando operasional kemudian berada di tangan Dr. H. Muhammad Djamaluddin, BE., M.Kom. Sebagai Komandan Pusat menurut bahan sumber, ia menjadi figur penting dalam kelanjutan transformasi Satgas Hamzanwadi.
Ia merupakan bagian dari zuriat inti pendiri Nahdlatul Wathan dan disebut sebagai adik kandung H. M. Syamsul Luthfi dan TGB. Muhammad Zainul Majdi.
Di bidang pendidikan dan organisasi, ia menjabat sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Hamzanwadi Pondok Pesantren Darunnahdlatain (YPH PPD) NWDI Pancor.
Di bawah kepemimpinannya, Satgas diarahkan untuk terus memperkuat pengamanan kegiatan besar NWDI, menjaga aset-aset vital yayasan, mengawal safari dakwah zuriat, serta memberikan respons terhadap persoalan yang menyangkut kehormatan pimpinan organisasi.
Ia juga disebut aktif mendorong pengembangan fungsi sosial dan akademis, termasuk pembentukan Satgas PPKPT dan pelatihan paralegal kemasyarakatan.
Perkembangan ekosistem Hamzanwadi melahirkan gagasan bahwa perlindungan dan pengabdian dapat berkembang ke ranah pendidikan dan hukum. Pelatihan paralegal bagi kepala sekolah, wakil kepala sekolah, dan guru BK menjadi bagian dari upaya membekali elemen pendidikan dengan dasar hukum perlindungan anak serta penanganan kekerasan digital, perundungan, dan kekerasan berbasis gender.
Dalam bidang politik, Dr. H. Muhammad Djamaluddin terpilih dan dilantik sebagai Anggota DPRD Kabupaten Lombok Timur periode 2024–2029. Perpaduan kepemimpinan organisasi, dunia pendidikan, pengabdian sosial, dan pengalaman politik tersebut memperkuat posisi Satgas dalam memasuki fase baru yang lebih luas dan beragam.
Dalam perkembangan terbaru yang tercatat dalam bahan sumber, Satgas Hamzanwadi juga berperan sebagai garda terdepan dalam menjaga nama baik tokoh agama dan pimpinan organisasi. Komando pusat disebut responsif terhadap hoaks, fitnah, dan ujaran kebencian yang menyasar pimpinan maupun zuriat. Apabila muncul persoalan yang berpotensi menimbulkan konflik, pendekatan tabayun atau klarifikasi langsung dikedepankan untuk menjaga marwah guru sekaligus mencegah konflik horizontal di kalangan jamaah.
Dalam pengamanan berskala besar, Satgas juga disebut berkolaborasi dengan Satmenwa Universitas Hamzanwadi untuk memastikan kelancaran lalu lintas, kenyamanan jamaah, dan sterilisasi area kegiatan.
| Komandan | Etape | Corak Utama | Jejak Pengabdian |
|---|---|---|---|
| H. M. Syamsul Luthfi | Pendiri | Fondasi, disiplin, loyalitas, kekuatan defensif | Satgas awal; pemerintahan; politik; olahraga; kepemudaan; pembangunan dan sosial |
| Dr. H. Mashun | Penerus | Tata kelola, administrasi, birokrasi, kemitraan kelembagaan | Penguatan administrasi Satgas; hubungan dengan pemerintah dan aparat; pendidikan dan akademis |
| Dr. H. Muhammad Djamaluddin | Pusat saat ini menurut sumber | Transformasi, pengamanan, pendidikan, hukum, sosial | Pengamanan kegiatan besar; aset yayasan; safari dakwah; PPKPT; paralegal; pengabdian sosial; politik |
Satgas Hamzanwadi Pancor diposisikan bukan hanya sebagai kekuatan pengamanan, tetapi sebagai bagian dari penjagaan marwah organisasi, perlindungan pimpinan dan zuriat, serta stabilitas sosial. Dalam bahan sumber, komando pusat disebut responsif terhadap hoaks, fitnah, dan ujaran kebencian. Pendekatan tabayun atau klarifikasi langsung dikedepankan apabila persoalan berpotensi menimbulkan konflik.
Dalam pengamanan berskala besar, Satgas juga disebut berkolaborasi dengan Satmenwa Universitas Hamzanwadi untuk memastikan kelancaran lalu lintas, kenyamanan jamaah, dan sterilisasi area kegiatan.
Dalam pelantikan dan pembinaan komando Satgas, lima prinsip ikhtiar tersebut ditekankan kepada setiap personel sebagai bagian dari karakter perjuangan dan pengabdian.
Menjalankan syariat Islam Ahlussunnah Waljama’ah.
Menjaga kedaulatan bangsa dari rongrongan radikalisme.
Mengawal visi dan misi dakwah Islam moderat.
Patuh pada garis komando para Tuan Guru dengan prinsip Sami’na wa Atho’na.
Hadir secara humanis membantu masyarakat umum yang membutuhkan pertolongan.
Perjalanan Satgas Hamzanwadi Pancor merupakan bagian dari perjalanan panjang perjuangan organisasi di Pancor. Ia lahir dalam suasana yang penuh tantangan, tumbuh melalui kedisiplinan dan loyalitas para anggotanya, kemudian berkembang mengikuti perubahan zaman dan kebutuhan masyarakat.
Dari masa awal pembentukan pada tahun 2000, penguatan jaringan komando, pembinaan kader, pengamanan kegiatan besar, pengawalan pimpinan dan zuriat, hingga transformasi pasca-islah dan lahirnya NWDI, Satgas menunjukkan daya tahan organisasi yang kuat.
Para pemimpin yang datang silih berganti memberikan warna masing-masing. H. M. Syamsul Luthfi meletakkan fondasi perjuangan dan kedisiplinan; Dr. H. Mashun memperkuat tata kelola dan hubungan kelembagaan; sementara Dr. H. Muhammad Djamaluddin melanjutkan estafet dengan memperluas orientasi pengamanan, pendidikan, hukum, dan pengabdian sosial.
Dengan landasan akidah Ahlussunnah Waljama’ah, semangat Islam Wasathiyah, komitmen kepada Pancasila dan NKRI, prinsip Sami’na wa Atho’na, serta Panca Setya, Satgas Hamzanwadi Pancor diposisikan sebagai kekuatan sipil keagamaan yang tidak hanya siap menjaga keamanan, tetapi juga siap mengabdi, membina kader, merawat persatuan, dan hadir di tengah masyarakat.
| Nama | Satgas Hamzanwadi Pancor |
|---|---|
| Basis | Pancor, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat |
| Tanggal berdiri | 8 April 2000 / 4 Muharram 1421 H |
| Asas | Pancasila dan NKRI |
| Landasan keagamaan | Ahlussunnah Waljama’ah, Mazhab Syafi’i |
| Orientasi | Pengamanan, pengawalan, pembinaan, dan pengabdian |
| Sifat organisasi | Permanen / jangka waktu tidak ditentukan menurut bahan sumber |
| Pendiri & Komandan pertama | H. M. Syamsul Luthfi, SE., M.Si. |
| Komandan penerus | Dr. H. Mashun, M.AP., M.Pd. |
| Komandan Pusat saat ini menurut bahan sumber | Dr. H. Muhammad Djamaluddin, BE., M.Kom. |
| Lima Pilar | Tindakan nyata, antusiasme, istiqomah, keuletan, doa |
| Panca Setya | Setya kepada Allah dan Rasul-Nya; Pancasila dan NKRI; NWDI; pimpinan dan zuriat; kepentingan umat |