Warisan Perjuangan

Jargon Perjuangan

✦

Beberapa semboyan penyemangat yang sering diucapkan al-maghfurulah semasa hayat pada setiap acara resmi, sehingga menjadi semboyan resmi yang sering disebut Jargon Perjuangan.

Empat Jargon Perjuangan

Setiap jargon ditampilkan sebagai satu bagian yang dapat dibuka untuk membaca uraian lengkapnya.

01PERTAMA
Jargon Pertama
لِإِعْلَاءِ كَلِمَةِ اللَّهِ وَعِزِّ الْإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِينَ
Li I‘lā’i Kalimatillāhi wa ‘Izzi al-Islāmi wal-Muslimīn
Untuk meninggikan kalimat Allah serta memuliakan agama Islam dan kaum muslimin.
Baca uraian lengkap Jargon Pertama

Organisasi Nahdlatul adalah organisasi keagamaan yang bergerak di bidang pendidikan, sosial, dan dakwah Islamiyah. Didirikan oleh Kyai Hamzanwadi pada tanggal 15 Jumadil Akhir 1372 H, bertepatan dengan tanggal 1 Maret 1953 M, yang merupakan perpanjangan tangan dari dua madrasah yang telah didirikan jauh sebelum masa kemerdekaan, yaitu Madrasah Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI) untuk kaum Adam, dan Madrasah Nahdlatul Banat Diniyah Islamiyah (NBDI) untuk kaum Hawa. Madrasah NWDI didirikan pada tanggal 15 Jumadil Akhir 1356 H. bertepatan dengan tanggal 22 Agustus 1936 M., sedangkan Madrasah NBDI didirikan pada tanggal 15 Jumadil Akhir 1362 H., bertepatan dengan tanggal 21 April 1943 M. Urgensi didirikannya kedua madrasah tersebut adalah dalam rangka meninggikan titah Allah dan memuliakan agama Islam dan umatnya, sebagaimana makna jargon di atas.

Dalam rangka merealisasikan misi dakwah Nahdlatul Wathan seperti tersebut pada jargon di atas, dia selalu berdakwah dengan memegang prinsip “filsafat matahari”, yang tak pernah mengenal istirahat. Media dakwah Kyai Hamzanwadi dilakukan dengan dua macam: pertama, dakwah yang langsung dipimpinnya sendiri dikenal dengan istilah “Majlis Dakwah Hamzanwadi”, dan kedua, dakwah yang dipimpin oleh murid-muridnya, yakni para tuan-guru (kyai) yang tersebar di seluruh pelosok pulau Lombok yang dikenal dengan “Majlis Ta'lim Hamzanwadi”.

Karena kegigihannya berdakwah tersebut, maka Dia terkenal dengan gelar “Abu al-Madaris wa al-Masajid” (bapak atau pengayom masjid-masjid dan madrasah-madrasah). Dia dikenal sebagai bapak perintis madrasah dengan sistem klasikal di Pulau Lombok, yang pada saat itu masih dianggap suatu yang haram (bidah sayyiah).

Mengingat jasa-jasanya itulah, pada suatu acara hari ulang tahun NWDI dan NBDI, Alamsyah Ratu Perwira Negara dalam kapasitasnya sebagai Menteri Agama pada saat itu pernah berkomentar: “Pulau Lombok tanpa kehadiran Nahdlatul Wathan, masih akan berada pada alam kejahiliyahan”.

Dewasa ini, ada 647 buah madrasah Nahdlatul Wathan (berdasarkan laporan PB NW versi Pancor pada acara Shilaturrahmi dan audiensi HIMMAH NW Cabang Yogyakarta, terdaftar bulan November 1999, pada hari yang sama juga berkunjung ke PB NW versi Kalijaga) telah tersebar sampai ke seluruh pelosok Nusantara, seperti dari ujung Barat, di Batam, DKI Jakarta, Kalimantan Timur, Sulawesi Tenggara, Bali, Lombok, Sumbawa, dan lain-lain. Sedangkan perguruan tinggi Nahdlatul Wathan ada tiga buah, yakni STKIP Hamzanwadi Pancor-Selong, IAI Hamzanwadi Pancor dan Universitas Nahdlatul Wathan (UNW) Mataram. Masih ada satu lagi perguruan yang setingkat dengan perguruan tinggi, yakni Ma’had Dar al-Quran Wa al-Hadits al-Madjidiyah al-Syafiiyah (MDQH) Pancor.

Sepeninggal Kyai Hamzanwadi, akankah warisan peradaban tersebut dijadikan sebagai barang antik yang hanya terpajang rapi, tanpa dirawat dan diberdayakan sebagaimana mestinya? Dalam rangka melanjutkan perjuangan menghidupkan girhah perjuangan ini, Kyai Hamzanwadi pernah berpesan dalam Wasiat Renungan Masa:

“Kalau nanda memang setia; Pasti Selalu siap sedia; Membantu ayahda membela agama; Di Bulan Bintang bersinar lima”.
Dipetik dari Buku HAMZANWADIKU oleh Dr. H. Muslihun Muslim.
02KEDUA
Jargon Kedua

“Pokoknya NW, Pokok NW Iman dan Taqwa,
NWDI – Fastabiqul Khairaat”

Karena nama organisasi berganti dari NW menjadi NWDI maka jargon disempurnakan dengan NWDI – FASTABIQUL KHAIRAAT.
Baca uraian lengkap Jargon Kedua

Sadar atau tidak, warga Nahdlatul Wathan sering keliru dalam memahami jargon ini. Banyak di antara mereka yang lebih mengutamakan kalimat “Pokoknya NW” dari kalimat “Pokok NW Iman dan Taqwa”. Padahal secara epistemologi kalimat “Pokoknya NW” sesungguhnya berada di bawah kalimat “Pokoknya NW Iman dan Taqwa”. Tegasnya, kalau tidak ada iman dan taqwa maka tidak ada artinya membanggakan organisasi.

Keberadaan suatu organisasi keagamaan dalam Islam, tak lebih dari upaya menjaga iman dan taqwa tersebut. Hal ini pada tataran praktek akan dikembangkan ke dalam berbagai aspek kehidupan. Sehingga, urgensi kehadiran organisasi Nahdlatul Wathan adalah dalam rangka menjaga kekuatan iman dan taqwa semua warganya dan umat Islam pada umumnya.

Keutamaan iman dan taqwa ini telah dilukiskan oleh Kyai Hamzanwadi dalam bait Wasiat Renungan Masa: “Bila nanda mencari muka; Janganlah cari di manusia; Tetapi carilah di robbal baroya; Dengan iman dan taqwa”. Dalam hal ini, tidak disangsikan lagi bahwa ciri kuatnya iman dan taqwa seseorang sangat ditentukan oleh sikap persaudaraan, sikap saling memaafkan dan selalu menjauhkan perbuatan yang tidak bermanfaat (tarkuh ma la yanih).

Dalam rangka menunjang jargon pertama, Syaikh Hamzanwadi mendirikan organisasi Nahdlatul Wathan (NW). NW adalah organisasi keagamaan yang bergerak di bidang pendidikan, sosial dan dakwah Islamiyah. Organisasi ini didirikan oleh Kyai Hamzanwadi pada tanggal 15 Jumadil Akhir 1372 H, bertepatan dengan tanggal 1 Maret 1953 M, yang merupakan perpanjangan tangan dari dua madrasah yang telah didirikan jauh sebelum masa kemerdekaan, yaitu Madrasah Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI) untuk kaum Adam, dan Madrasah Nahdlatul Banat Diniyah Islamiyah (NBDI) untuk kaum Hawa.

Dewasa ini, ada 647 buah madrasah Nahdlatul Wathan terdaftar bulan November 1999. Madrasah NW telah tersebar sampai ke seluruh pelosok Nusantara, seperti dari ujung Barat: di Batam, DKI Jakarta, Kalimantan Timur, Sulawesi Tenggara, Bali, Lombok, Sumbawa, dan lain-lain. Sedangkan perguruan tinggi Nahdlatul Wathan ada tiga buah, yakni STKIP Hamzanwadi Pancor-Selong, IAI Hamzanwadi Pancor dan Universitas Nahdlatul Wathan (UNW) Mataram. Masih ada satu lagi perguruan yang setingkat dengan perguruan tinggi, yakni Ma’had Dar al-Qur’an Wa al-Hadis al-Madjidiyah al-Syafi’iyah (MDQH) Pancor. Setelah pecahnya NW menjadi dua versi (Pancor dan Anjani), di Anjani telah berdiri Universitas Syaikh Zainuddin (UNISYAZ), IAI Hamzanwadi Lombok Timur, dan MDQH NW Anjani.

Sepeninggal Kyai Hamzanwadi, akankah warisan peradaban tersebut dijadikan sebagai barang antik yang hanya terpajang rapi, tanpa dirawat dan diberdayakan sebagaimana mestinya? Tentu saja tidak. Oleh karena itu, upaya untuk melanjutkan perjuangan Kyai Hamzanwadi lewat madrasah dan pengajian umum mutlak terus dikembangkan, terutama oleh muridnya.

“Kalau nanda memang setia; Pasti Selalu siap sedia; Membantu ayahda membela agama; Di Bulan Bintang bersinar lima”.
Dipetik dari Buku HAMZANWADIKU oleh Dr. H. Muslihun Muslim.
03KETIGA
Jargon Ketiga
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدِي أَنْفَعُكُمْ لِنَهْضَةِ الْوَطَنِ، وَإِنَّ شَرَّكُمْ عِنْدِي أَضَرُّكُمْ لِنَهْضَةِ الْوَطَنِ.
Inna akramakum ‘indī anfa‘ukum li nahḍatil-waṭan, wa inna syarrakum ‘indī aḍarrukum li nahḍatil-waṭan.
Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian menurut saya adalah yang paling bermanfaat bagi kemajuan tanah air, dan sesungguhnya yang paling buruk di antara kalian menurut saya adalah yang paling membahayakan kemajuan tanah air.
Baca uraian lengkap Jargon Ketiga

Pada jargon ketiga di atas, nampaknya nilai manfaat menjadi tolok ukur yang signifikan dalam menentukan nilai kemulian seorang murid di hadapan gurunya. Sementara untuk meraih predikat kemanfaatan itu harus melewati tiga jenjang secara hirarkis, yakni: ahlul ilmī, ahlul aml, dan ahlul ibādah. Kita harus menyadari bahwa sesungguhnya ilmu itu untuk diamalkan (innamal ilmu li al-amal) dan ilmu tanpa diamalkan laksana pohon yang tidak berbuah (al-Ilmu bilā amalin kasysyajari bilā tsamarin).

Suatu amalan harus memiliki esensi Ilahiyah (ibadah) dengan memasang niat untuk bertadlarru dan taabbud kepada Tuhan. Namun, jangan lupa bahwa manfaat maksimal hanya akan dapat diperoleh dengan suasana utuh, kompak, dan bersatu.

Dalam hal ini Kyai Hamzanwadi pernah berpesan:

(1) Dasar selamat bersatu kalimah; Bersatu derap bersatu langkah; Dasar bahaya berpecah belah; Terkadang membawa suul khotimah.

(2) Kalau anakku kompak selama; Di satu barisan selama-lama; Pastilah NW jayanya lama; Karena syaitan tak dapat nggrama.

Realitas yang ada sekarang menunjukkan fakta yang berbeda, NW secara de facto memang ada dua, yakni versi Pancor dan versi Anjani yang memiliki Pengurus Besar yang berbeda. Namun demikian, penulis sangat yakin bahwa kedua versi ini tidak memiliki perbedaan yang terlalu jauh dari segala aspek kecuali karena persoalan politis dan insyaAllah pada saatnya nanti akan menjadi satu, seperti ketika pendirinya masih hidup.

Dipetik dari Buku HAMZANWADIKU oleh Dr. H. Muslihun Muslim.
04KEEMPAT
Jargon Keempat

YAKIN – IKHLAS – ISTIQOMAH

Tiga kunci yang menjadi landasan kader dalam mengemban tugas dan misi perjuangan.
Baca uraian lengkap Jargon Keempat

Jargon keempat ini merupakan syarat mutlak yang harus dimiliki oleh seorang kader dalam mengemban tugas dan misi Nahdlatul Wathan terutama pada aspek pendidikan, sosial, dan dakwah Islamiyah.

Berkaitan dengan jargon ini, Kyai Hamzanwadi mengatakan bahwa ada tiga kunci keselamatan dunia akhirat, yakni yakin, ikhlas, dan istiqamah sebagaimana makna yang terkandung pada surat al-fatihah. Beliau juga menjelaskan bahwa iman adalah pokok dari segala pokok, buah dari segala pokok itu adalah taqwa. Baru bisa terjalin sikap istiqamah apabila antara tiga unsur lainnya saling koheren (kerja sama), yakni antara yakin, ikhlas, dan istiqamah itu sendiri.

Dalam kesempatan lain, Kyai Hamzanwadi juga menandaskan bahwa kalau benar kamu anggota NW, maka haruslah kamu tanam iman dan taqwa itu di dalam hatimu. Ikhlas dalam ibadah adalah melakukan ibadah karena perintah, bukan karena ganjaran syurga dan menjauhi larangan karena larangan Allah bukan karena takut neraka. Ikhlas adalah sikap yang sama sewaktu dicela dan di puji (al-istiwa bain az-zammi wa al-madh).

Berkaitan dengan ciri-ciri orang ikhlas, Kyai Hamzanwadi menjelaskan dalam syairnya:

Manusia ikhlas ada tandanya
Tetap berjuang dengan setia
Dimana saja mereka berada
Tidak tergantung menjadi pemuka
Contohnya Khalid dipecat Umar
Di Perang Yarmuk sedang berkobar
Jiwa beliau bertambah besar
Bertambah ikhlas berjuang besar

Dengan demikian, prinsip ikhlas ini sangat berkaitan dengan prinsip keridlaan dan kemanfaatan. Jika kita ridla terhadap apapun yang dipercayakan kepada kita, maka akan memberikan manfaat yang positif kepada pribadi kita. Sehingga sampai di sini, yang menjadi persoalan adalah bukan kita harus menjadi pemimpin atau menjadi pejabat, tetapi yang paling adalah menikmati qadla qadar Tuhan secara ikhlas dan mensyukurinya sebagai karunia-Nya.

Dipetik dari Buku HAMZANWADIKU oleh Dr. H. Muslihun Muslim.