Baca uraian lengkap Jargon Pertama
Organisasi Nahdlatul adalah organisasi keagamaan yang bergerak di bidang pendidikan, sosial, dan dakwah Islamiyah. Didirikan oleh Kyai Hamzanwadi pada tanggal 15 Jumadil Akhir 1372 H, bertepatan dengan tanggal 1 Maret 1953 M, yang merupakan perpanjangan tangan dari dua madrasah yang telah didirikan jauh sebelum masa kemerdekaan, yaitu Madrasah Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI) untuk kaum Adam, dan Madrasah Nahdlatul Banat Diniyah Islamiyah (NBDI) untuk kaum Hawa. Madrasah NWDI didirikan pada tanggal 15 Jumadil Akhir 1356 H. bertepatan dengan tanggal 22 Agustus 1936 M., sedangkan Madrasah NBDI didirikan pada tanggal 15 Jumadil Akhir 1362 H., bertepatan dengan tanggal 21 April 1943 M. Urgensi didirikannya kedua madrasah tersebut adalah dalam rangka meninggikan titah Allah dan memuliakan agama Islam dan umatnya, sebagaimana makna jargon di atas.
Dalam rangka merealisasikan misi dakwah Nahdlatul Wathan seperti tersebut pada jargon di atas, dia selalu berdakwah dengan memegang prinsip “filsafat matahari”, yang tak pernah mengenal istirahat. Media dakwah Kyai Hamzanwadi dilakukan dengan dua macam: pertama, dakwah yang langsung dipimpinnya sendiri dikenal dengan istilah “Majlis Dakwah Hamzanwadi”, dan kedua, dakwah yang dipimpin oleh murid-muridnya, yakni para tuan-guru (kyai) yang tersebar di seluruh pelosok pulau Lombok yang dikenal dengan “Majlis Ta'lim Hamzanwadi”.
Karena kegigihannya berdakwah tersebut, maka Dia terkenal dengan gelar “Abu al-Madaris wa al-Masajid” (bapak atau pengayom masjid-masjid dan madrasah-madrasah). Dia dikenal sebagai bapak perintis madrasah dengan sistem klasikal di Pulau Lombok, yang pada saat itu masih dianggap suatu yang haram (bidah sayyiah).
Mengingat jasa-jasanya itulah, pada suatu acara hari ulang tahun NWDI dan NBDI, Alamsyah Ratu Perwira Negara dalam kapasitasnya sebagai Menteri Agama pada saat itu pernah berkomentar: “Pulau Lombok tanpa kehadiran Nahdlatul Wathan, masih akan berada pada alam kejahiliyahan”.
Dewasa ini, ada 647 buah madrasah Nahdlatul Wathan (berdasarkan laporan PB NW versi Pancor pada acara Shilaturrahmi dan audiensi HIMMAH NW Cabang Yogyakarta, terdaftar bulan November 1999, pada hari yang sama juga berkunjung ke PB NW versi Kalijaga) telah tersebar sampai ke seluruh pelosok Nusantara, seperti dari ujung Barat, di Batam, DKI Jakarta, Kalimantan Timur, Sulawesi Tenggara, Bali, Lombok, Sumbawa, dan lain-lain. Sedangkan perguruan tinggi Nahdlatul Wathan ada tiga buah, yakni STKIP Hamzanwadi Pancor-Selong, IAI Hamzanwadi Pancor dan Universitas Nahdlatul Wathan (UNW) Mataram. Masih ada satu lagi perguruan yang setingkat dengan perguruan tinggi, yakni Ma’had Dar al-Quran Wa al-Hadits al-Madjidiyah al-Syafiiyah (MDQH) Pancor.
Sepeninggal Kyai Hamzanwadi, akankah warisan peradaban tersebut dijadikan sebagai barang antik yang hanya terpajang rapi, tanpa dirawat dan diberdayakan sebagaimana mestinya? Dalam rangka melanjutkan perjuangan menghidupkan girhah perjuangan ini, Kyai Hamzanwadi pernah berpesan dalam Wasiat Renungan Masa: