Mengucapkan salam dengan sempurna
Apabila bertemu dan berpisah selalu mengucapkan salam dengan sempurna, yaitu “Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh” dan menjawab salam dengan sempurna pula atau lebih baik.
Ciri, Sikap dan Amalan Warga Nahdlatul Wathan
Kepribadian warga Nahdlatul Wathan adalah ciri atau tanda yang menonjol yang mesti dimiliki oleh warga Nahdlatul Wathan sebagai pengamalan dari faham keagamaan yang dianut oleh organisasi Nahdlatul Wathan, yaitu Islam Ahlussunnah wal Jama’ah ‘ala Mazhabil Imamisy Syafi’i r.a.
Kepribadian ini digali dari khazanah ajaran-ajaran Pendiri Nahdlatul Wathan Maulanasy Syaikh Tuan Guru Kiai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid.
Apabila bertemu dan berpisah selalu mengucapkan salam dengan sempurna, yaitu “Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh” dan menjawab salam dengan sempurna pula atau lebih baik.
Apabila berjabatan tangan dengan guru atau orang tua, terlebih lagi dengan Bapak Pendiri NW, dilakukan dengan mencium tangan.
Apabila Bapak Pendiri NW datang di suatu majlis, beliau disambut dengan do’a “Rabbana ya dzal jalali wal minan dan seterusnya”, dengan sikap berdiri dan diakhiri dengan aba-aba “hayyu”, setelah itu mengucapkan salam secara serempak.
Setiap upacara dan acara NW dibuka dengan Shalatun Nahdlatain dan ditutup dengan do’a pusaka.
Gemar berhizib dengan Hizib Nahdlatul Wathan, baik dengan sendiri-sendiri maupun berjama’ah.
Gemar shalat wajib berjama’ah, dan setelah selesai shalat membaca wirid 3.
Gemar dan tetap berupaya menghadiri pengajian-pengajian yang diselenggarakan NW seperti Majlis Da’wah HAMZANWADI dan Majlis Ta’lim NW yang dipimpin para Tuan Guru, ustaz dan ustazah Nahdlatul Wathan.
Pandai-pandai memilih dan menentukan guru.
Menggunakan pakaian dengan sopan dan rapi sesuai dengan ajaran Islam Ahlussunnah wal jama’ah ‘ala Mazhabil Imamisy Syafi’i r.a.; utamanya para siswi, mahasiswi dan muslimat NW hendaknya menggunakan busana muslimah.
Menyebut dan memanggil nama Pendiri Nahdlatul Wathan dan guru-guru beliau dengan cara ta’zim seperti Maulanasy Syaikh, Al ‘Alimul ‘Allamah, dan yang semisal.
Menyebut jasa-jasa baik, kemuliaan, kelebihan perjuangan dan ajaran Bapak Maulanasy Syaikh dengan “tahadduts bin ni’mah”.
Mencintai dan menghormati orang yang dicintai dan dihormati Bapak Maulanasy Syaikh, utamanya Maulanasy Syaikh Hasan Muhammad Al Masysyath, Al ‘Allamatul Adib As Sayyid Muhammad Amin Al Kutbi dan guru-guru beliau lainnya.
Mematuhi fatwa dan ajaran beliau sebagai ulama’ dan sebagai pendiri NWDI, NBDI dan NW dengan sikap “Sami’na wa Atha’na” dan melaksanakannya dengan konsekwen serta penuh tanggung jawab.
Menampakkan loyalitas dan kesetiaan yang tinggi kepada pendiri NWDI, NBDI dan NW dan para pimpinan NW.
Memutuskan segala permasalahan yang sulit dipecahkan dengan berdasarkan musyawarah mufakat. Jika tidak dapat diputuskan, barulah dengan shalat istikharah.
Menerima do’a dengan melalui pengijazahan, utamanya do’a-do’a khusus.
Mengucapkan bai’at terutama oleh pengurus/pimpinan NW, pelajar, mahasiswa, thullab dan thalibat NW untuk bersedia dengan penuh kesetiaan dan tanggung jawab memperjuangkan dan tetap menegakkan ajaran-ajaran Nahdlatul Wathan serta memesankan kepada anak cucu agar menjadi warga NW yang setia.
Memulai pidato dengan membaca basmalah, salam, hamdalah, shalawat dan bacaan yang diajarkan; pada akhir pidato mengucapkan “Wallohul muwaffiqu wal hadi ila sabilirrasyad, wassalamu’alaikum warahmatullohi wa barakatuh”.
Setiap menulis surat dimulai dengan membaca basmalah, kemudian “Bismillahi wa bihamdihi”, salam, dan ditutup dengan “Wallahul muwaffiqu wal hadi ila sabilirrasyad, Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wa barakatuh” serta mencantumkan tanggal dan tahun Hijriyah.
Bergaul dengan orang-orang baik, dan dalam pergaulan tetap berusaha untuk dapat berbuat baik kepada semua orang seperti yang diajarkan Nabi Muhammad s.a.w. yaitu “Khaliqinnasa bi khuluqin hasan”.
Berbuat baik kepada semua orang yang telah berbuat baik kepada organisasi Nahdlatul Wathan.
Membacakan talqin bagi mayit.
Menghadiahkan pahala seperti pahala bacaan Al Fatihah dan lain-lainnya kepada sesama kaum muslimin, utamanya yang sudah meninggal dunia, sebagaimana dijelaskan dalam kitab-kitab Ahlussunnah wal Jama’ah.
Membacakan Al Qur’an, tahlil, tasbih, tahmid, takbir/do’a sebagai tanda terima kasih bagi mereka yang beramal dan yang dimasukkan amal untuknya serta mendoakan mereka dan keluarga mereka. Dalam istilah Nahdlatul Wathan disebut “Asy Syafa’atul Kubra/Syafa’atul Ikhwan”.
Bertawassul yaitu berdo’a dengan menggunakan wasilah sebagaimana yang lazim digunakan oleh para Imam dan Ulama’ terdahulu.
Membaca lafaz niat seperti Ushalli sebelum shallat.
Membaca do’a qunut dalam shalat shubuh dan shalat witir pada pertengahan kedua bulan Ramadlan.
Mengerjakan shalat sunnat qabliyah dan ba’diyah Jumu’ah masing-masing empat rekaat.
Melaksanakan shalat tarawih 20 rekaat tambah witir.
Setiap keluar dari rumah, untuk bepergian membaca: بِسْمِ اللهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللهِ وَلاَحَوْلَ وَلاَقُوَّةَ اِلاَّبِاللهِ
Menengadahkan kedua belah tangan dan mengangkatnya ketika berdo’a, dan setelah selesai berdo’a mengusap muka dengan kedua tapak tangan.
Meng”amin”kan do’a, karena meng”amin”kan do’a berarti ikut juga berdo’a.
Gemar beramal jariyah.
Dokumen juga memuat bacaan Arab dan terjemahannya, termasuk muqaddimah Hizib Nahdlatul Wathan, Shalawat Nahdlatain, Doa Pusaka dan wirid sesudah shalat.