Ummi Hj. Siti Rauhun Zainuddin Abdul Madjid, S.Ag.
Biografi Tokoh • Pancor

Ummi Hj. Siti Rauhun
Zainuddin Abdul Madjid, S.Ag.

Pilar Agung Dakwah Perempuan, Penjaga Orisinalitas Sanad Perjuangan, dan Madrasah Emas Para Pemimpin Nusa Tenggara Barat
UMMI RAUHUN
PENDIDIK & ULAMA PEREMPUAN
PANCOR
JELAJAHI BIOGRAFI — KLIK BAGIAN YANG INGIN DIBACA
01

I. KELAHIRAN YANG DINANTIKAN DAN SILSILAH AGUNG

1. Keajaiban Tahun 1947

Lanskap sosial-keagamaan Pulau Lombok pada tahun 1947 menorehkan catatan sejarah yang sangat sakral bagi keluarga besar Al-Magfurulah TGKH. M. Zainuddin Abdul Madjid (Maulana Syaikh). Sebelum tahun tersebut, kehidupan domestik Maulana Syaikh diselimuti ujian yang cukup berat dari Allah SWT. Dari beberapa pernikahan terdahulu, beliau belum juga dikaruniai seorang anak pun, hingga sempat berembus isu miring di tengah masyarakat bahwa sang ulama besar tersebut mandul.

Namun, takdir Allah SWT berkata lain. Ketika usia pernikahan beliau dengan istri keempatnya, Hj. Sitti Jauhariyah, berjalan sekian lama, tanda-tanda kehamilan itu akhirnya muncul. Hj. Sitti Jauhariyah sendiri bukan wanita sembarangan; ia adalah putri dari seorang mubalig asal tanah Jawa bernama Abdurrahim yang menyebarkan Islam di Selong, dan ibunya adalah wanita asli Selong bernama Masnah. Karena parasnya yang sangat menawan, Hj. Sitti Jauhariyah di masa mudanya tersohor dengan julukan "Kembang dari Kampung Jawa".

Kabar kehamilan ini disambut dengan sukacita dan haru biru oleh Maulana Syaikh dan para jemaah. Ketika saat persalinan tiba, lahirlah seorang bayi perempuan yang sehat, cantik, dan memancarkan aura kesejukan. Beliau diberi nama Siti Rauhun, sebuah kosakata indah dari bahasa Arab yang memuat arti "kegembiraan, ketenteraman, atau kenikmatan". Kelahiran Ummi Rauhun (yang kelak akrab dipanggil Umi Tahun oleh masyarakat lokal) adalah jawaban atas doa-doa panjang di sepertiga malam sang Waliullah.

2. Abu Rauhun wa Raihanun: Dua Jagoan Penghuni Surga

Dalam sepanjang hayatnya, Maulana Syaikh menikah sebanyak tujuh kali (di antaranya Chasanah, Hj. Siti Fatmah, Hj. Raihan, Hj. Siti Jauhariyah, Hj. Siti Rahmatullah, Hj. Baiq Siti Zuhriyah Mukhtar, dan Hj. Adniyah). Kendati demikian, dari ketujuh pernikahan tersebut, Allah SWT hanya menitipkan dua orang putri kandung utama sebagai ahli waris biologis dan ideologis beliau.

Nama kedua putri ini tidak sembarangan dipilih, melainkan diambil langsung dari untaian wahyu Al-Qur'an Surah Al-Waqi'ah ayat 89:

“Fa rauhun wa raihanun wa jannatu na’im” (Maka dia memperoleh ketenteraman dan rezeki serta surga kenikmatan).

Dari ayat suci inilah kedua putri mahkota itu dinamai, dan dari sini pula Maulana Syaikh mendapatkan gelar kehormatan kultural di mata jemaah sebagai Abu Rauhun wa Raihanun (Ayah dari Rauhun dan Raihanun):

Ummi Hj. Siti Rauhun (Pancor): Putri pertama dan sulung, lahir dari rahim Hj. Sitti Jauhariyah. Beliau tumbuh menjadi representasi kelembutan, ketajaman intelektual, dan rujukan spiritual jemaah yang berbasis di Pancor.

Ummi Hj. Sitti Raihanun (Anjani): Putri kedua, lahir dari rahim Hj. Sitti Rahmatullah (putri dari Guru Hasan, Imam Khatib Masjid Distrik Rarang). Ummi Raihanun juga mewarisi kecerdasan alami ayahandanya

02

II. POLA DIDIKAN UNIK: MENEGUR DENGAN PIJETAN DAN SINDIRAN HALUS

Maulana Syaikh mendidik Ummi Rauhun dengan metode yang sangat berbeda dari orang tua pada umumnya. Pola yang diterapkan cenderung keras, tegas, berwibawa, namun dibalut dengan kelembutan yang sangat menyentuh sanubari. Beliau tidak pernah memarahi putrinya dengan suara tinggi atau bentakan kasar. Jika sang anak melakukan kekeliruan yang dinilai kurang pantas dalam pandangan adat dan agama, Maulana Syaikh akan menegurnya secara halus dan edukatif.

Kisah yang paling monumental dan membekas seumur hidup bagi Ummi Rauhun terjadi ketika beliau masih berstatus sebagai santriwati di Madrasah Mu'allimat Tsanawiyah Nahdlatul Banat Pancor. Suatu hari, Ummi Rauhun bersama teman-teman sekelasnya pergi bertamasya ke Labuhan Haji, Lombok Timur, yang berjarak sekitar 5-7 kilometer dari Kota Selong. Mereka mengendarai dokar (kereta kuda) hanya karena rasa penasaran masa muda yang ingin melihat langsung pohon "Ndes", sejenis buah langka yang tidak tumbuh di lingkungan Pancor.

Di tengah perjalanan, ada seorang jemaah yang mengenali wajah putri sulung Maulana Syaikh tersebut, lalu melaporkan kepergiannya kepada sang ayah. Keesokan harinya, Ummi Rauhun dipanggil untuk menghadap ayahandanya di Pancor. Sebagai gadis yang polos, beliau datang tanpa firasat buruk sedikit pun. Sesampainya di kamar, Maulana Syaikh menyambutnya dengan sangat baik dan langsung meminta Ummi Rauhun untuk memijat kaki beliau.

Saat jemari Ummi Rauhun sedang takzim memijat kaki sang ayah, tiba-tiba Maulana Syaikh bertanya dengan nada sindiran yang sangat tenang namun menghujam:

Mendengar kalimat itu, Ummi Rauhun merasa bagaikan tersambar petir di siang bolong. Beliau seketika sadar bahwa perjalanannya ke Labuhan Haji telah diketahui. Sebelum sempat beliau menyusun kata untuk menjawab, Maulana Syaikh melanjutkan dawuhnya dengan penuh kasih sayang seorang ayah:

"Saya hanya khawatir terjadi sesuatu pada dirimu di tengah jalan. Bagaimana kalau kamu diculik orang, atau terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan?"

Sepanjang pertemuan itu, Ummi Rauhun tidak mampu mengeluarkan sepatah kata pun. Beliau hanya terdiam membisu dengan kepala menunduk dalam-dalam. Sindiran halus itu dirasakannya jauh lebih dahsyat daripada kemarahan fisik, sebuah tamparan batin yang membuatnya bersumpah tidak akan pernah lagi mengulangi perbuatan yang tidak pantas dari sudut pandang marwah keluarga. Metode didikan psikologis inilah yang melahirkan mentalitas Ummi Rauhun sebagai wanita yang sangat patuh, tahu menjaga kehormatan diri, namun memiliki keberanian sosiologis yang luar biasa saat tampil di muka umum.

03

III. REKAM JEJAK KIPRAH: ULAMA PEREMPUAN DAN PELOPOR EMANSIPASI

1. Gelar Sarjana Agama (S.Ag.) di Era Patriarki

Di masa mudanya, Pulau Lombok masih sangat kental dibalut oleh kultur patriarki, di mana sebagian besar masyarakat menganggap perempuan tidak perlu bersekolah tinggi karena ujung-ujungnya hanya akan mengurus urusan domestik dapur dan sumur. Namun, Ummi Rauhun mendobrak tembok stereotip tersebut. Didorong penuh oleh visi progresif ayahnya, beliau berhasil menuntaskan pendidikan tinggi dan meraih gelar Sarjana Agama (S.Ag.). Gelar ini menjadi bukti autentik bahwa keluarga besar pendiri NWDI memandang ilmu pengetahuan sebagai hak mutlak yang setara antara laki-laki dan perempuan.

2. Dua Dekade Memimpin MTs Mu'allimat NW Pancor

Visi besar Maulana Syaikh dalam memerdekakan kaum perempuan secara intelektual ditandai dengan pendirian Madrasah Nahdlatul Banat Diniyyah Islamiyyah pada tahun 1943. Seiring berjalannya waktu, lembaga ini bermutasi menjadi MTs Mu'allimat NW Pancor.

Pada awal tahun 1980-an hingga awal 2000-an, Ummi Rauhun dipercaya penuh untuk memegang tongkat kepemimpinan sebagai Kepala Madrasah Tsanawiyah Mu'allimat NW Pancor. Jabatan kepala sekolah perempuan di era itu—terutama di lingkungan institusi pesantren yang konservatif—adalah sesuatu yang sangat langka dan tidak lazim. Selama dua dekade, beliau membuktikan diri mampu mengelola manajemen pendidikan dengan profesionalisme tingkat tinggi, disiplin yang ketat, serta integritas moral yang tanpa cela. Beliau membentuk ribuan santriwati menjadi perempuan-perempuan yang melek literasi agama dan umum.

3. Mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muslimat NW

Pengabdian Ummi Rauhun meluas ke ranah struktural kemasyarakatan ketika beliau diamanahi posisi sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Muslimat Nahdlatul Wathan (NW) Pancor. Di sinilah pengaruh beliau mengakar kuat di akar rumput. Beliau turun langsung mengisi pengajian-pengajian perempuan, majelis taklim, dan melakukan pendekatan persuasif-edukatif ke rumah-rumah warga.

Pesan yang selalu beliau dengungkan dalam setiap khotbahnya adalah: Pendidikan untuk anak perempuan adalah sebuah keniscayaan agama dan keadilan sosial. Beliau dengan tegas meminta para ibu untuk tidak membedakan porsi fasilitas belajar antara anak laki-laki dan anak perempuan. Bagi beliau, perempuan berpendidikan tidak akan menghancurkan tatanan keluarga, melainkan akan bertindak sebagai arsitek peradaban yang mendidik generasi penerus bangsa.

04

IV. RAHIM EMAS: SILSILAH DAN URUTAN PRESISI ENAM PUTRA-PUTRI

Sejarah mencatat Ummi Rauhun sebagai sosok "Ibu Agung". Dari garis keturunan beliau, lahir tokoh-tokoh besar yang memegang kendali utama dalam roda pemerintahan, legislatif, akademisi, keagamaan, hingga dunia bisnis modern di Nusa Tenggara Barat.

Beliau pertama kali menikah dengan H. M. Djalaluddin, S.H. (dalam beberapa dokumen juga dikenal sebagai H. Machsun Djalilah), seorang tokoh hukum penting setempat, dan dikaruniai 5 orang putra-putri. Setelah berpisah, beliau kemudian menikah dengan Drs. H. M. Syubli dan dikaruniai seorang putri.

Berikut adalah urutan presisi dari keenam putra-putri Ummi Rauhun:

01

Dr. Ir. Hj. Sitti Rohmi Djalilah, M.Pd. (Putri Pertama)

Putri Pertama

Seorang akademisi ulung yang pernah menjabat sebagai Rektor Universitas Hamzanwadi. Beliau mengukir tinta emas dalam sejarah sebagai Wakil Gubernur perempuan pertama di NTB (periode 2018–2023). Meneladani jejak langkah ibandanya, saat ini Ummi Rohmi memegang posisi mentereng sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Muslimat NWDI.

02

H. M. Syamsul Luthfi, S.E., M.M. (Putra Kedua)

Putra Kedua

Tokoh politik nasional dengan pembawaan karismatik yang sangat kuat. Beliau mengabdi bagi kemaslahatan masyarakat NTB di tingkat pusat dengan menjadi Anggota DPR RI selama beberapa periode.

03

Dr. TGB. KH. Muhammad Zainul Majdi, M.A. (Putra Ketiga)

Putra Ketiga

Lebih akrab dikenal di seluruh nusantara dengan sebutan Tuan Guru Bajang (TGB). Beliau adalah ulama internasional lulusan Doktor dari Universitas Al-Azhar Kairo yang menjabat sebagai Gubernur NTB dua periode (2008–2018). Di bawah kendalinya, NTB melesat menjadi destinasi Halal Tourism terbaik dunia. Saat ini beliau memegang amanah sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (PB NWDI).

04

H. M. Djamaluddin, BE, M.Kom. (Putra Keempat)

Putra Keempat

Seorang intelektual yang ahli di bidang teknologi informasi (IT) lulusan luar negeri. Beliau mendedikasikan keahliannya untuk memodernisasi tata kelola birokrasi pesantren di Pancor dengan menjabat sebagai Ketua YPH PPD NWDI. Pengaruh kemasyarakatannya membawa beliau terpilih dan duduk sebagai Anggota DPRD Kabupaten Lombok Timur saat ini.

05

Hj. Sitti Tsurayya (Putri Kelima)

Putri Kelima

Seorang wanita yang sangat bersahaja, berkarakter tenang, dan berhati mulia. Berbeda dari saudara-saudaranya yang terjun ke panggung politik praktis, beliau memilih jalan sunyi yang penuh rida Allah: menetap di dalam rumah tangga demi mendampingi, merawat, dan melayani masa sepuh ibundanya tercinta dengan ketakziman total.

06

Siti Hidayati (Putri Keenam / Bungsu)

Putri Keenam / Bungsu

Lahir dari pernikahan Ummi Rauhun dengan Drs. H. M. Syubli. Beliau merupakan wanita progresif yang selalu aktif mendampingi kakak perempuannya, Hj. Sitti Rohmi Djalilah, dalam berbagai kegiatan safari dakwah Muslimat NWDI. Beliau gigih menjaga estafet nilai kepesantrenan sembari sukses mengepakkan sayap sebagai pengusaha di dunia bisnis fashion.

05

V. ARSITEK KELAHIRAN NWDI MODERN DAN SIMBOL LEGALITAS NEGARA

Peran Ummi Rauhun tidak hanya berada di dalam tembok madrasah, melainkan menjadi pilar penentu masa depan organisasi. Ketika terjadi dinamika internal yang cukup tajam di tubuh organisasi Nahdlatul Wathan sepeninggal Maulana Syaikh, Ummi Rauhun bertindak sebagai figur pemersatu dan jangkar spiritual bagi para abituren (alumni) dan jemaah.

Bersama putra ketiganya (TGB) beserta barisan ulama senior (seperti TGH. Yusuf Makmun), Ummi Rauhun mengambil keputusan hukum dan organisatoris yang sangat berani demi menyelamatkan aset umat: menegaskan berdirinya organisasi Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI) yang secara resmi terdaftar dan berpusat di Pancor. Berkat langkah taktis ini, ratusan madrasah, sekolah, dan perguruan tinggi yang didirikan oleh Maulana Syaikh mendapatkan jaminan kepastian hukum untuk tetap menyebarkan Islam Ahlussunnah wal Jama'ah.

Kedudukan beliau sebagai ahli waris sah yang diakui secara mutlak oleh negara terlihat nyata pada tanggal 9 November 2017. Bertempat di Istana Negara, Presiden Republik Indonesia Joko Widodo secara resmi menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada TGKH. M. Zainuddin Abdul Madjid. Pada momen bersejarah tersebut, Ummi Hj. Siti Rauhun melangkah maju ke depan bertindak sebagai ahli waris utama untuk menerima plakat penghargaan Pahlawan Nasional tersebut dari tangan Presiden, dengan didampingi secara takzim oleh adiknya, Ummi Raihanun.

06

VI. KONDISI SEKARANG

Berlawanan dengan berbagai berita bohong (hoax) yang sempat beredar di media sosial, Ummi Hj. Siti Rauhun Zainuddin Abdul Madjid saat ini senantiasa berada dalam kondisi sehat walafiat. Di usianya yang telah memasuki dekade ketujuh, beliau menghabiskan masa sepuhnya dengan tenang di Pancor, dikelilingi oleh anak-cucu yang berbakti. Beliau tetap tegak berdiri sebagai muara doa, oase spiritual yang teduh, saksi hidup kejayaan pergerakan Islam, serta figur keteladanan yang takkan pernah tergantikan bagi jutaan jemaah Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah di seluruh pelosok Nusantara.

✦ ✦ ✦

Jejak Seorang Ibu Agung

Biografi ini ditata dengan mempertahankan keluasan bahan sumber, agar perjalanan hidup, pendidikan, dakwah, keluarga, dan peran Ummi Hj. Siti Rauhun tetap terbaca sebagai satu rangkaian sejarah yang utuh.

⌂ ↑