01
BAB IProfil, Kelahiran, Keluarga, dan Silsilah
Nama dan Asal
TGB. Dr. H. M. Zainul Majdi, M.A.:
Penerus Estafet Perjuangan TGKH. M. Zainuddin Abdul Majid
Profil Singkat TGB. Dr. H. M. Zainul Majdi, M.A.
Kelahiran, Keluarga, Silsilah, Pendidikan, dan Guru
TGB. Dr. H. M. Zainul Majdi, M.A., memiliki nama lengkap Muhammad Zainul Majdi, atau lebih akrab disapa Tuan Guru Bajang (TGB). TGB merupakan sebuah panggilan masyarakat Sasak terhadap ulama
muda, seperti Tuan Guru Muhammad Zainul Majdi. TGB. Dr. H. M. Zainul Majdi, M.A., lahir di Pancor, Kecamatan Selong Kabupaten Lombok Timur, NTB, tanggal 31 Mei 1972. Ia merupakan anak ketiga dari pasangan H. M Djalaluddin dan Hj. Siti Rauhun Zainuddin Abdul Majid. Ayahnya seorang pensiunan birokrat Pemerintah Daerah NTB, dan kakeknya TGKH. M. Zainuddin Abdul Majid seorang ulama besar di Lombok NTB pendiri Madrasah NWDI, NBDI, dan organisasi NW.
02
BAB IIPendidikan, Hafalan Al-Qur'an, dan Al-Azhar
Pendidikan Agama dan Formal
TGB. Dr. H. M. Zainul Majdi, M.A., menikah dengan Hj. Robiatul Adawiyah, SE, putri KH. Abdul Rasyid Abdullah Syafi’i, pemimpin Pondok Pesantren as-Syafiiyah, Jakarta, tahun 1997. Hasil pernikahan tersebut ia dikaruniai 1 putra dan 3 putri, yaitu Muhammad Rifki Farabi, Zahwa Nadhira, Fatima Azzahra, dan Zayda Salima. Tanggal 31 Mei 2013, TGB. Dr. H. M. Zainul Majdi mengajukan berkas permohonan talak terhadap istrinya di Pengadilan Agama Jakarta Selatan, dan tahun 2013, ia menikah dengan Dr. Hj. Erica L. Panjaitan dan dikaruniai 2 orang putri, yaitu Azzadina Johara Majdi dan Khadija Hibbaty Majdi.
TGB. Dr. H. M. Zainul Majdi, M.A., sebagai keturunan tuan guru (ulama) besar di Lombok, maka tidak mengherankan jika pendidikannya tidak terlepas dari pendidikan agama yang dijadikan prioritas utama. Ia pernah belajar ilmu agama secara langsung dari sang kakek, yakni TGKH. M. Zainuddin Abdul Majid. Pendidikan formal pernah ditempuh mulai dari jenjang pendidikan dasar di SD Negeri 3 Mataram (saat ini berganti nama menjadi SD Negeri 6 Mataram) dan lulus tahun 1986. Setelah itu, ia melanjutkan ke MTs Muallimin NW Pancor yang diselesaikan selama 2 tahun, karena kecerdasan yang dimiliki. Setelah itu, melanjutkan pendidikan di MA pada yayasan yang sama, dan lulus pada tahun 1991.
Doktoral dan Disertasi
Setelah lulus dari MA, ia sempat mendalami ilmu agama selama satu tahun (1991-1992) untuk menghafal 30 juz al-Qur’an di MDQH NW Pancor. Setelah itu, ia berangkat ke Kairo-Mesir dengan tujuan menimba ilmu dan melanjutkan studinya di Universitas al-Azhar Kairo pada Fakultas Ushuluddin dengan Jurusan Tafsir dan Ilmu-Ilmu Al-Qur’an, ia lulus dengan tahun 1995 dengan gelar License (Lc). Setelah itu, ia melanjutkan program magister dan mendapatkan gelar Master of Arts (M.A) dengan predikat Jayyid Jidan lulus tahun 2000. Kemudian setelah menyelesaikan pendidikan S1 & S2 di Universitas al-Azhar Kairo selama 10 tahun, ia melanjutkan pada program doktor pada universitas yang sama dengan jurusan yang sama juga.
1991–1992MDQH NW Pancor — mendalami ilmu agama dan menghafal 30 juz Al-Qur'an.
1995 / 2000Al-Azhar Kairo — License (Lc), kemudian Master of Arts (M.A.) predikat Jayyid Jidan.
2011Gelar doktor dengan predikat Martabah El-Syaraf El-Ula Ma'a Haqqutba atau Summa Cumlaude.
03
BAB IIIPolitik sebagai Lahan Dakwah
Kembali ke Tanah Air
TGB. Dr. H.M. Zainul Majdi, M.A., menerima Penghargaan dari Universitas al_Azhar Kairo-Mesir, diserahkan oleh Grand Syaikh Al-Azhar Prof Dr Ahmed el-Tayeb, tanggal 17
Oktober 2019.
Menjadi Gubernur Nusa Tenggara Barat
Setelah kembali ke tanah air, TGB. Dr. H. M. Zainul Majdi, M.A., mengamalkan ilmu yang telah diperoleh dari Kairo-Mesir dengan mengabdikan diri untuk membangun bangsa. Pengabdian ini tampak dari perjuangan, kepemimpinan, karya, prestasi, dan tanda jasa yang pernah diperoleh.
Menjadi Gubernur Nusa Tenggara Barat
Alasan TGB. Dr. H. M. Zainul Majdi, M.A., menerima pencalonan dirinya menjadi Gubernur NTB periode 2008-2013. Secara lebih mendalam dapat ditemukan dalam sebuah buku berjudul Laa Takhaf Walaa Tahzan, berisi alasan dan tabayyun (penjelasan) terhadap berbagai pertanyaan masyarakat yang berkembang terkait dengan pencalonannya sebagai Gubernur NTB. TGB. Dr. H. M. Zainul Majdi, M.A., memberikan beberapa ulasan penting mengenai kesediaan dirinya dicalonkan sebagai gubernur sebagai berikut:
Lahan Dakwah
Lahan Dakwah
Berkaitan dengan ini, TGB. Dr. H. M. Zainul Majdi, M.A secara tegas menyatakan:
Sesungguhnya seluruh wilayah kehidupan adalah lahan dakwah, termasuk wilayah politik. Apabila kemaslahatan dakwah menurut kita untuk memanfaatkan politik, maka terjun ke politik adalah suatu keniscayaan. Ketika kita melihat peluang untuk ishlahul ummah (memperbaiki umat) maka dilakukan melalui jalur politik, maka hal itu harus dilakukan. Hal ini sebagaimana dulu al-Magfurullah Maulana Syeikh (Kyai Hamzanwadi) maju menjadi anggota konstituante pada zaman orde lama dan menjadi anggota MPR-RI pada zaman orde baru. Selama ini kita merasakan bahwa banyak hal yang kita suarakan, harapan-harapan umat tidak dapat ditunaikan karena kita tidak memiliki otoritas (kewenangan) untuk itu, maka apabila nanti Allah swt. memudahkan, jabatan yang diperoleh kita manfaatkan untuk kemaslahatan umat (Majdi, 2008:2-3).
Mendesakralisasi Jabatan Gubernur
Mendesakralisasi Jabatan Gubernur
Mendesakralisasi jabatan gubernur dimaksud yaitu ingin menunjukkan bahwa jabatan gubernur bukanlah jabatan yang istimewa, sehingga dapat dikontrol oleh masyarakat luas. Terkait dengan alasan ini, TGB. Dr. H. M. Zainul Majdi, M.A., menegaskan:
NW sebagai organisasi sosial dan keagamaan tidak mengenal dikotomi antara wilayah agama dan negara (politik). Bagi NW, politik harus diwarnai dengan moralitas agama. Negara adalah wilayah yang dapat dijadikan sebagai lahan dakwah bagi NW terutama dengan mendorong jihad intelektual dan jihad sosial. Dengan jihad intelektual kita dapat menetapkan ideologi pembangunan yang selaras dengan Islam, demikian juga dengan jihad sosial kita dapat berbuat lebih banyak untuk mengentaskan kemiskinan terutama di daerah terpinggirkan.
Pandangan TGB. Dr. H. M Zainul Majdi, M.A., terhadap politik (siyasah) merupakan suatu keniscayaan dalam Islam sehingga perlu diwarnai dengan etika Islam. Ia mengatakan:
Anggapan terhadap TGB. Dr. H. M. Zainul Majdi, M.A., tidak pernah memiliki pengalaman birokrasi, ia menjawab dengan menyampaikan:
TGB. Dr. H. M. Zainul Majdi, M.A., secara tegas menolak bahwa komitmennya untuk maju menjadi calon gubernur lalu dianggap lebih mementingkan dunia dari pada akhirat. Ia menyatakan:
04
BAB IVIjtihad Politik, Moderasi, dan Kepemimpinan Transformatif
Ijtihad Politik TGB
…bahwa 'innamal a'malu binniyat. Sesungguhnya semua amal itu tergantung niat. Menjadi pemimpin dengan niat membangun umat adalah satu bentuk ibadah yang mulia di sisi Allah swt., bahkan dalam hadist Nabi disebutkan, bahwa kelompok yang paling pertama memperoleh naungan Allah swt. di hari kiamat kelak adalah imamun adil, pemimpin yang adil.
Ijtihad politik TGB. Dr. H. M. Zainul Majdi, M.A., dengan Bismillah untuk maju dalam pencalonan dirinya sebagai Gubernur NTB tahun 2008 sangat tepat. Alasan yang dikemukakannya, yaitu:
Indonesia secara umum dan NTB khususnya, di masa depan sangat membutuhkan pemimpin-pemimpin muda berbakat, intelek, memiliki kecakapan politik dan memiliki integritas moral-religius, dan kualitas yang sangat menonjol dimiliki oleh TGB;
Pluralitas masyarakat NTB baik secara ras dan agama membutuhkan figur pemimpin yang bisa mengayomi semua pihak dalam konteks warga negara. Ada tiga kualitas yang dimiliki TGB dalam hal ini, yaitu (a) seorang muslim yang moderat, (b) demokratis dalam membuat keputusan, dan (c) diplomatis dalam bertutur;
Program yang dicanangkan TGB untuk maju dalam pencalonan Gubernur sangat relevan dengan kebutuhan masyarakat NTB saat ini, yakni penegakan good governance dan demokratisasi di tingkat lokal dengan cara memperkuat civil society. (Zulkarnaen, 2008: 11).
Spirit Berkhidmat dan Amar Ma'ruf Nahi Mungkar
Spirit yang ingin dihembuskan TGB. Dr. H. M. Zainul Majdi, M.A., setelah terpilih menjadi gubernur adalah memimpin dan membangun NTB dengan semangat "berkhidmat" dan "amar ma'ruf nahi munkar". Melayani umat dengan baik dan merumuskan serta melaksanakan kebijakan yang berpihak pada rakyat. Maju untuk semua (Majdi, 2008: 11). Selain itu, Zulkarnaen (2008) menguatkan bahwa dilihat dari tipologi pemikirannya, TGB. Dr. H. M. Zainul Majdi, M.A., dapat dikategorikan sebagai sosok yang moderat transformatif dengan beberapa alasan:
Visi politik yang dibangunnya untuk memimpin NTB adalah memimpin dan membangun NTB dengan semangat berkhidmat dan amar ma'ruf nahi mungkar. Kata berkhidmat dapat diartikan dalam dua aspek, yakni pemikiran dan tindakan. Dalam ranah pemikiran, selain dikenal menguasai khasanah klasik dari pondok pesantren, beliau juga seorang cendekiawan muda yang telah menempuh pendidikan hingga doktoral di luar negeri, tentunya banyak menguasai ilmu-ilmu baru yang lebih modern. Penyatuan dua khazanah keilmuan klasik dan modern inilah yang umumnya mampu membentuk kepribadian yang moderat, sangat menghargai pendapat orang lain, tidak merasa benar sendiri, mau menerima ide-ide yang konstruktif, terbuka terhadap berbagai kritik, menyelesaikan konflik dengan jalan damai dan bukan kekerasan, serta menganggap musyawarah dan diplomasi adalah langkah yang lebih baik dalam menyelesaikan masalah.
Sikap moderat bukan berarti tidak memiliki prinsip. Inilah yang ditunjukkan TGB. Dr. H. M. Zainul Majdi, M.A., dengan visi
sikap ini adalah bagaimana melakukan tindakan sosial kemasyarakatan dalam kerangka amar ma'ruf nahi mungkar.
Politik Tanpa Mengandalkan Uang sebagai Segalanya
Amar ma’ruf nahi mungkar inilah yang dimaksud transformatif dengan menjadikan komitmen amar ma'ruf nahi mungkar menjadi pijakan dasar untuk melayani umat dengan baik dan merumuskan serta melaksanakan kebijakan yang berpihak kepada masyarakat. TGB. Dr. H. M. Zainul Majdi, M.A., menandaskan bahwa umat Islam telah diberikan atribut oleh Allah swt., sSebagai khaira ummah (umat yang terbaik) yang memiliki tugas menyeru kepada kebaikan dan mencegah yang mungkar. Gelar khaira ummat, menurutnya, hanya akan menjadi slogan kosong tanpa makna jika tidak diiringi dengan semangat bekerja, kesadaran berkreasi, berinovasi, dan kemampuan berproduksi. Harus ada upaya nyata untuk mentransformasikan atau membumikan ajaran Islam ke dalam berbagai aspek, baik sosial, politik, ekonomi, budaya, dan lainnya agar dapat menjawab masalah-masalah sosial kemasyarakatan yang berorientasi pada keadilan sosial.
Kemenangan Pilgub dan Rekor MURI
Melalui semangat yang tinggi, TGB. Dr. H. M. Zainul Majdi, M.A., dan timnya ia berhasil memenangkan pemilihan gubernur (Pilgub) NTB dengan tidak mengandalkan kekuatan uang sebagai alat utama pemenangan. Menurut TGB. Dr. H. M. Zainul Majdi, M.A., uang memang penting tetapi uang bukanlah segala-galanya. Saat ini masyarakat sudah cerdas, sudah mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Masyarakat sudah paham bahwa orang yang mencari kemenangan dengan cara membeli maka setelah menang dia pasti akan melakukan korupsi untuk mengambil uang yang sudah dikeluarkan, serta masyarakat yang memilih calon tertentu karena diberi uang, artinya menghargakan dirinya seharga uang yang diterima.
Terpilihnya TGB. Dr. H. M. Zainul Majdi, M.A., sebagai Gubernur NTB, kemudian Museum Rekor Indonesia
(MURI) memberikan sertifikat rekor MURI kepada TGB. Dr. H. M. Zainul Majdi, M.A., sebagai gubernur termuda se-Indonesia. Rekor MURI tersebut diserahkan oleh Senior Manajer MURI Paulus Pangka mewakili Dr. Jaya Suprana bertepatan dengan hari Sumpah Pemuda yang diperingati di halaman Kantor Gubernur NTB tanggal 28 Oktober 2009. TGB. Dr. H.
M. Zainul Majdi, M.A., menang dalam pemilihan kepala daerah (Pilkada)
Kepemimpinan NTB Periode 2008–2018
NTB dengan total perolehan suara sekitar 847.976. Usia TGB. Dr. H. M. Zainul Majdi, M.A., saat dilantik menjadi Gubernur NTB tanggal 17 September 2008 dalam usia 36 tahun 3 bulan 17 hari.
TGB. Dr. H. M. Zainul Majdi, M.A., selama memimpin Provinsi Nusa Tenggara Barat, dapat dikatakan sukses memajukan Nusa Tenggara Barat. Misalnya dalam bidang pertanian, pendidikan, pariwisata, pengelolaan keuangan, dan pemerintahan yang baik membuat TGB. Dr. H. M. Zainul Majdi, M.A., diberikan penghargaan Leadership Award oleh Menteri Dalam Negeri tahun 2012. Selesai masa jabatannya tahun 2013, TGB. Dr. H. M. Zainul Majdi, M.A., kembali terpilih sebagai Gubernur NTB periode 2013-2018. Kepemimpinannya pada masa ini, berhasil mengurangi tingkat kemiskinan dan meningkatkan produksi atau ketahanan pangan di daerahnya sehingga membuat NTB keluar sebagai provinsi terbaik dalam hal tingkat pembangunan manusia.
Tahun 2017, TGB. Dr. H. M. Zainul Majdi, M.A., kembali menerima penghargaan Leadership Award dari Menteri Dalam Negeri. Selain itu, ada banyak penghargaan yang diterima selama menjabat Gubernur Nusa Tenggara Barat. Banyaknya prestasi serta kesuksesan selama periode kedua kememimpinannya membuat ia dilirik oleh beberapa partai sebagai salah satu kandidat calon Presiden dan Wakil Presiden tahun 2019, bahkan berdasarkan survei PolCoMM, elektabilitasnya mengalahkan beberapa tokoh yang sudah terkenal, antara laian seperti Anies Rasyid Baswedan dan Agus Harimurti Yudhoyono.
TGB. Dr. H. M. Zainul Majdi, M.A., sebagai seorang pemimpin (umara) dan ulama, visi keislaman tidak pernah tertinggal dalam setiap kebijakan yang dibuatnya, seperti dirubahnya slogan NTB dari “Bumi Gora” menjadi “Bumi Quran”. Gubernur sekaligus hafidz Quran ini juga aktif menggiatkan anak-anak untuk membumikan Qur’an melalui pendidikan. Bahkan sempat ada dua anak penghafal Qur’an dari Ghaza Palestina yang sempat berkunjung ke kediaman TGB. Dr. H. M. Zainul Majdi, M.A.. Selain itu, ia aktif dalam dunia keislaman dengan menghadiri Konferensi Dunia Islam Internasional di Arab Saudi yang diselenggarakan World Moslem League, dan menghadiri Konferensi Ulama Internasional diadakan di Situbondo Jawa Timur.
Pemimpin dan Prinsip Kepemimpinan dalam Fiqh Siyasah
05
BAB VPemimpin dan Prinsip Kepemimpinan dalam Fiqh Siyasah
Landasan Pemimpin
Secara umum dapat digambarkan, bahwa persyaratan yang harus dimiliki seorang pemimpin adalah memiliki pemahaman Islam secara mendalam. Orang yang mendalam pemahaman agamanya adalah ulama, kyai, atau tuan guru. Beberapa alasan syar’i sebagai dasar seseorang yang memiliki
pengetahuan agama sebagai pemimpin di NTB: (1) al-Qur'an Surat al-Baqarah
(2): 30 tentang kepemimpinan (khalifah): ”Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.”; (2) al-Qur'an Surat Ali Imran
(3): 104 tentang perintah agar selalu ada sekelompok manusia yang menyeru pada amar ma’ruf dan nahi munkar, dan (3) hadist Rasulullah Saw., tentang tanggung jawab: “Kamu sekalian adalah pengembala (pemimpin), dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.”
Eksistensi seorang tuan guru merupakan seorang ulama sejati, ia merupakan seorang yang tidak hanya bisa mendakwahkan aspek ubudiyah saja, namun juga harus mampu mendakwahkan ajaran agama bi al-lisan dan bi al-hal sekaligus, terutama bagaimana mengelola ekonomi, pendidikan, dan kesehatan, sehingga diharapkan tercapai khasanah di dunia dan akhirat sekaligus. Seorang ulama sejati yang memahami agama secara mendalam sudah bisa dipastikan juga paham betul bagaimana mengelola kehidupan duniawi secara baik, karena dalam Islam tidak dikenal dikotomi antara ilmu-ilmu duniawi dan ukhrawi. Ulama Islam awal telah membuktikan hal ini, mereka tidak hanya mahir dalam ilmu fiqh dan tasawuf, tetapi mahir juga dalam ilmu kedokteran, sosiologi, filsafat, dan sains lainnya.
a) Kedudukan manusiaPrinsip kedudukan manusia di muka bumi QS. al-Baqarah (30): ”Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”;
b) KepemimpinanPrinsip kepemimpinan QS. al-Syuara’ (26): "Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku, dan janganlah kamu mentaati orang-orang yang melewati batas, yang membuat kerusakan di muka bumi dan tidak mengadakan perbaikan”;
c) MusyawarahPrinsip musyawarah QS. Ali Imran (3): “…dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang yang bertawakal kepada-Nya”;
d) Tanggung jawabPrinsip tanggung jawab HR. Bukhari Muslim: ”Tiap-tiap kamu adalah pemimpin dan bertanggung jawab terhadap yang dipimpinnya….” Al-Ghazali juga menegaskan bahwa politik itu harus bersendikan agama dan moral, karena menurutnya kepemimpinan itu setingkat di bawah kenabian;
e) Persaudaraan pemimpin dan rakyatPrinsip hubungan antara pemimpin dan yang dipimpin berdasarkan persaudaraan: HR. Ahmad: ”Pemimpin-pemimpin kamu yang baik adalah pemimpin yang mencintai mereka (rakyat) dan mereka mencintai kamu, mereka mendoakan kamu dan kamu mendoakan mereka. Sedangkan pemimpin-pemimpin kamu yang tidak baik adalah pemimpin yang kamu benci dan mereka membenci kamu, kamu melaknat mereka dan mereka melaknat kamu” al-Ghazali menyebutkan pemimpin yang bisa dicintai rakyatnya adalah pemimpin yang mengutamakan pelayanan terhadap orang yang membutuhkan terutama dengan melihat bagaimana harus melayani, bukan melihat orang yang dilayani;
f) Tolong-menolong terhadap yang lemahPrinsip tolong menolong terhadap yang lemah: HR. Abu Dawud: ”Barang siapa memiliki kelebihan berupa kemampuan, maka hendaklah ia membantu dengan kelebihannya itu atas orang yang tidak memiliki kemampuan, dan barang siapa memiliki kelebihan bekal maka hendaklah ia memberikan kelebihannya itu kepada orang yang kekurangan bekal”.
g) Mengangkat pejabat negaraPrinsip dalam mengangkat para pejabat negara: “Barang siapa memegang kekuasaan mengurus urusan kaum muslimin, kemudian ia mengangkat seseorang padahal ia menemukan orang yang lebih pantas bagi kaum muslimin daripada orang itu, maka sungguh ia telah mengkhianati Allah dan Rasul-Nya”.
06
BAB VIPrestasi, Karya, dan Tanda Jasa
Tanda Kehormatan Tertinggi dari Presiden
Tanda Kehormatan Tertinggi dari Presiden
TGB. Dr. H. M. Zainul Majdi, M.A., selama menjabat sebagai Gubernur NTB periode 2008-2018, menerima penghargaan tanda kehormatan dari Presiden RI, Ir. H. Joko Widodo. TGB. Dr. H. M. Zainul Majdi, M.A., diberikan penghargaan Satyalancana Karya Bhakti Praja Nugraha, merupakan penghargaan tertinggi dari Presiden Indonesia dalam pengelolaan manajemen pemerintahan. Penghargaan ini diberikan atas tata kelola pelayanan publik dalam penyelenggaraan urusan pemerintahan selama memimpin NTB.
TGH. M. Zainul Majdi menerima penghargaan Satyalancana Karya Bhakti Praja Nugraha dari Presiden RI, Ir. H. Joko Widodo, di Jakarta, 17 Juli 2019.
Wisata Halal dan Penghargaan Nasional
TGB. Dr. H. M. Zainul Majdi, M.A., berhasil menjadikan NTB sebagai provinsi yang terkenal dengan branding wisata halal di Indonesia bahkan dunia, sehingga, NTB pernah mendapat predikat The Best Halal Tourism Destination di dunia. Selain mendapatkan penghargaan ini, sebelumnya, TGB. Dr. H. M. Zainul Majdi, M.A., juga pernah meraih penghargaan tertinggi dari Presiden Indonesia, yaitu Bintang Mahaputra Utama dari Presiden ke-6 Indonesia, H. Susilo Bambang Yudhoyono. Penghargaan diberikan atas prestasi menonjol dalam pembangunan daerah saat memimpin Nusa Tenggara Barat. Penghargaan Satyalancana Karya Bhakti Praja Nugraha ini menambah puluhan penghargaan yang diterima oleh TGB. Dr. H. M. Zainul Majdi, M.A, sebelumnya.
Karya dan Gagasan: Kesejahteraan NTB
Karya dan Gagasan
Peringatan hari otonomi daerah tahun 2017, majalah keuangan negara yang konsen dalam bidang kajian pelaksanaan otonomi daerah melakukan wawancara terhadap 22 kepala daerah, yaitu gubernur dan bupati/ walikota se-Indonesia dinilai memiliki kiat-kiat sukses untuk memajukan daerahnya. Salah satunya Gubernur NTB, yaitu TGB. Dr. H. M. Zainul Majdi, M.A., dinilai sebagai gubernur paling sukses mengantarkan NTB sebagai provinsi top mover dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Karya monumental itu berpuncak pada ditetapkannya NTB sebagai daerah yang paling progresif dalam capaian program menurunkan angka kemiskinan. Tercatat, jumlah penduduk miskin di NTB tahun 2008 masih mencapai 1.080.610 jiwa (23,81 %). Namun tahun 2016, jumlah itu berhasil diturunkan menjadi 786.580 jiwa (16,02 %). Artinya setiap tahun angka kemiskinan rata-rata dapat diturunkan sebesar 1-2 %, padahal secara nasional dengan fiskal yang besar, upaya menurunkan angka kemiskinan 1 % saja membutuhkan waktu 5 sampai 6 tahun.
Perekonomian Provinsi NTB juga terus mengalami pertumbuhan yang sangat berkualitas di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional. Misalnya, tingkat pertumbuhan tahun 2016 sebesar 5,82 % tahun 2015, sedangkan tanpa pertambangan biji logam, ekonomi NTB tumbuh 5,71 %. Pertumbuhan ekonomi yang berkualitas dibuktikan dari 3 (tiga) indikator utama, yakni penurunan kemiskinan, peningkatan kesempatan kerja dan makin banyak masyarakat yang terlibat dalam pengembangan usaha ekonomi produktif.
Artinya pertumbuhan ekonomi NTB yang berkualitas juga telah berhasil mengurangi angka pengangguran sekaligus merangsang tumbuhnya semangat wirausaha ekonomi produktif, sehingga berhasil menekan angka rasio gini menjadi 0,36 %. Selain itu, konsistensi mengawal program
MDGs dan Pengakuan Internasional
pencapaian indikator Millenium Development Goals (MDGs), kini berhasil mencatatkan rekor NTB sebagai juara terbaik nasional. Keberhasilan ini mendapat apresiasi dari dunia internasional. Sejumlah negara pun berniat mereplikasi success story NTB dalam pencapaian indikator MDGs tersebut, sehingga PBB dalam sidang tahunan di AS, mengundang Gubernur TGB. Dr.
H. M. Zainul Majdi, M.A., mempresentasikan capaiannya di depan sidang badan dunia yang terhormat itu. Sejumlah keberhasilan tersebut merupakan refleksi kepemimpinan yang mampu memaknai hakikat otonomi daerah.
07
BAB VIIAktivitas Dakwah dan Politik
Da'i, Pengajar, dan Politisi
Aktivitas Dakwah dan Politik
TGB. Dr. H. M. Zainul Majdi, M.A., dikenal sebagai seorang da’i dan pengajar sejak tahun 1999. Ia seorang santri yang tumbuh dan berkembang di lingkungan ormas Islam NW. Ia tidak hanya berhadapan dengan jamaah NW, namun juga banyak jamaah yang berafiliasi ke NU dan Muhammadiyah. Selain terjun dalam dakwah dan pendidikan, ia juga terjun ke dunia politik, seperti tahun 2004 bergabung dengan Partai Bulan Bintang (PBB), dan menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) periode 2004-2009. Terjun ke dunia politik mungkin sebelumnya tidak pernah terpikirkan oleh TGB. Dr. H. M. Zainul Majdi, M.A., karier politiknya berawal karena ia akrab dengan tokoh reformis Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra mengajaknya untuk maju sebagai anggota DPR-RI dari PBB, kemudian ia terpilih sebagai Anggota Legislatif periode 2004-2009.
Belum genap masa jabatan TGB. Dr. H. M. Zainul Majdi, M.A., sebagai Anggota DPR-RI, tahun 2008 ia maju pada pilgub NTB setelah mendapat restu dari Dewan Syuro PBB dengan pasangan Badrul Munir (seorang birokrat). Banyak calon yang meminangnya untuk dijadikan calon gubernur. Namun, Yusril Ihza Mahendra kembali meyakinkannya untuk maju sebagai calon Gubernur Nusa Tenggara Barat. Pencalonan tersebut diusung oleh PBB dan PKS, hingga akhirnya TGB. Dr. H. M. Zainul Majdi, M.A., sukses terpilih menjadi Gubernur NTB periode 2008-2013. Pilihannya masuk ke dalam politik bukan tanpa alasan, menurutnya dalam pengalamannya selama berdakwah, banyak sisi dakwah yang tidak bisa disentuh dengan kultural saja, tapi harus secara sistem melalui struktur politik. TGB. Dr. H. M. Zainul Majdi, M.A., yang sangat concern dengan pendidikan, juga bercita-cita untuk memajukan pendidikan di NTB dan juga menggratiskan pendidikan.
Dakwah melalui Struktur Politik
Istilah politik (siyasah) tidak selalu identik dengan hal negatif. Pemahaman negatif terhadap politik biasanya disebabkan karena pengalaman yang pernah terjadi saat TGB. Dr. H. M. Zainul Majdi, M.A., terjun ke dunia politik praktis. Persoalan politik dalam Islam sangat berkaitan langsung dengan substansi agama secara menyeluruh, sehingga agama menganggap bahwa persoalan
politik merupakan persoalan yang perlu diperhatikan secara serius. Catatan sejarah yang dapat mendukung argumentasi ini, yaitu: (1) Islam awal dengan tampilnya Rasulullah dan para Khulafaur Rasyidin, telah memberikan torehan tinta emas dalam masa kepemimpinannya; (2) pengalaman Partai Masyumi pada masa orde lama telah memberikan contoh kegigihan umat Islam dalam memperjuang aspirasinya, (3) pengalaman Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dalam perjalanan politiknya telah memberikan warna tersendiri dalam politik nasional, dengan selalu menyuarakan aspirasi Islam dengan cara yang bermartabat, dan (4) pengalaman beberapa partai Islam lainnya yang telah memperlihatkan kegigihannya dalam menyuarakan aspirasi umat Islam yang mayoritas di Indonesia.